Konseling Traumatik Menggunakan Ego State Therapy
(Traumatic Counseling Using Ego State Therapy)
Abstract. Traumatic experience make people not happy and fears in life. Because of that needs traumatic counseling to remove and healing trauma symptoms. Ego state therapy is a powerful and brief therapy based on the premise that personality is composed of separate parts, rather than being a homogeneous whole. Ego state therapy could effectively for handling trauma and fears. Based on study, trauma memories are encoded in the subconscious mind. Traumatic counseling using ego state therapy technique purpose for remove trauma symptom. Because of trauma memories encoded in the subconscious mind, then single-session ego state therapy would effectively using hypnosis condition in therapy. Process of ego state therapy using hypnosis consist of accessing vaded ego state, doing regression for knowing the root cause of trigger trauma. Then, doing process of expression, removal and reliefe of vaded ego state which using mature and nurturing ego state.
Key Word : Traumatic, Counseling, Ego state therapy
Abstrak. Pengalaman traumatis membuat seseorang menjadi tidak bahagia dan sering diliputi rasa takut yang berlebihan. Untuk itu, diperlukan layanan konseling traumatic untuk menghilangkan gejala-gejala trauma yang dialami oleh konseli. Ego state therapy merupakan teknik terapi singkat yang berdasar pada premis kepribadian yang terdiri dari bagian-bagian (parts) terpisah. Ego state therapy dapat secara efektif menangani kasus trauma dan rasa takut yang berlebihan Berdasarkan hasil studi menjelaskan memori trauma tersimpan didalam memori pikiran bawah sadar. Untuk itu, konseling traumatik dengan menggunakan teknik ego state therapy bertujuan menghilangkan gejala-gejala trauma. Karena memori trauma tersimpan dalam pikiran bawah sadar, maka satu sesi ego state therapy akan lebih efektif dengan menggunakan kondisi hipnosis dalam proses terapinya. Proses ego state therapy dengan menggunakan kondisi hipnosis terdiri dari mengakses ego state yang terluka, melakukan regresi untuk mengetahui akar masalah pemicu trauma. Setelah itu, melakukan proses ekpresi, pelepasan dan penenangan ego state yang terluka dengan mencari ego state yang lebih dewasa dan mau mengasuh.
Kata Kunci : Trauma, Konseling, Ego state therapy
A. Pendahuluan
Pengalaman traumatis merupakan pengalaman menyakitkan yang dapat membuat seseorang tidak bahagia dalam hidupnya. Orang yang mengalami trauma ceerung melakukan penghindaran, cemas yang tinggi, depresi, selalu teringat kejadian yang menyakitkan, rasa waspada yang berlebihan dan mati rasa emosi (Litz, 1992). Pengalaman traumatis terjadi ketika seseorang mengalami atau menyaksikan suatu ancaman yang mengancam dirinya dan meresponnya dengan rasa takut dan rasa tidak berdaya (Forgash & Knipe, 2008; Carll, 2007). Peristiwa atau kejadian yang menekan diluar pengalaman manusia pada umunya seperti perkosaan, bencana alam, kecelakaan, kekerasan seksual, perang atau penyiksaan (Barabaz et al, 2011; Carll, 2007). Pengalaman traumatis yang dialaminya seolah-olah menjadi katalisator mengingat kembali pengalaman yang menyakitkan yang dialaminya.
Efek lain yang dirasakan ketika mengalami trauma adalah dengan tidak mampunya seseorang dalam mengontrol emosi. Penelitian menunjukkan ketika seseorang mengalami trauma, ada bagian dari otak yang mengatur emosi menjadi semakin aktif dan tidak terkendali (Hull, 2002; Van Der Kolk, 2007; Barabaz et al, 2011). Untuk itu, orang yang mengalami pengalaman traumatis harus segera mendapatkan pemberian bantuan secara psikologis untuk menghilangkan gangguan-gangguan yang dirasakan. Carll (2007) menambahkan peristiwa trauma dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder / PTSD) meliputi perasaan takut yang berlebihan, tidak berdaya dan cemas. Gejala utama bagi orang yang mengalami PTSD adalah seolah-olah orang tersebut mengalami dan merasakan kembali pengalaman yang membuat trauma (seperti mimpi buruk, pikiran yang terus menganggu, dan selalu teringat kejadian trauma); melakukan penghindaran terhadap semua hal yang mengingatkannya terhadap kejadian (mengindari pikiran, orang, aktivitas dan segala hal yang berkaitan dengan kejadian trauma); sulit untuk konsentrasi, sulit tidur dan amarah yang meledak-ledak (Herman, 1992; Forgash & Knipe, 2008; Carll, 2007).
Trauma tidak hanya terjadi dalam setting masyarakat, karena saat ini trauma juga dapat terjadi dalam setting pendidikan khususnya sekolah. Fakta yang menarik adalah rata-rata trauma dialami oleh siswa yang sedang belajar di sekolah. Seperti yang dilansir www.metrotvnews.com (Sabtu, 21 April 2012) tentang seorang siswa SD di Bulukumba yang trauma dan tidak mau ke sekolah karena diinjak oleh guru. Berita lain dimuat oleh www.surabaya.detik.com (Rabu, 4 April 2012) yang memuat tentang siswa SD di Mojokerto yang tidak berani sekolah karena trauma dipukul guru agama. Fakta yang menarik ditemukan bahwa kebanyakan korban trauma adalah siswa dan yang menjadi pelakunya adalah guru sebagai tenaga pendidik. Okawa & Hauss (2007) menjelaskan bahwa kekerasan (abuse) yang dialami akan menyebabkan trauma yang ditandai dengan kecemasan yang tinggi, menghindari situasi sosial, emosi yang labil dan depresi.
Untuk itu, konseli yang mengalami trauma perlu mendapatkan proses bantuan berupa konseling traumatik agar hidupnya bahagia dan terbebas dari ketakutan dan kecemasan yang menghantuinya. Makalah ini menyajikan sebuah pendekatan dan teknik terapi singkat ego state therapy yang secara efektif dapat menyembuhkan orang yang mengalami trauma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ego state therapy secara efektif dapat digunakan dalam membantu masalah seperti post traumatic stress disorder (PTSD), depresi, multiple personality disorder, adiksi, manajemen rasa marah, trauma, panic attack, obsessive compulsive disorder dan kecemasan (Barabaz & Watkins, 2008; Watkin & Watkins, 1997; Emmerson; 2007; Philips, 2008).
B. Pembahasan
Untuk memahami lebih jauh bagaimana gambaran konseling traumatik dengan menggunakan ego state therapy berikut ini akan dijelaskan mengenai definisi ego etate therapy, dasar-dasar ego state therapy, kondisi alami ego state, tujuan dari ego state therapy, teknik-teknik terapi dalam ego state dan prosedur praktek konseling traumatik melalui ego state therapy.
Definisi Ego state therapy
Ego state therapy merupakan teknik terapi singkat yang berdasar pada premis kepribadian yang terdiri dari bagian-bagian (parts) terpisah dan ini disebut ego state (Emmerson, 2003). Ego state seringkali disebut bagian kecil dari kepribadian seseorang. J.G. Watkins & H.H Watkins (1997) mendefinisikan ego state therapy sebagai sebuah terapi yang menggunakan pendekatan individu, keluarga, dan terapi kelompok dalam mengakses dan berhubungan dengan ego state yang bertujuan untuk melepaskan dan mengatasi konflik ego state yang terjadi.
Setiap kali kita berbicara “saya seperti ini orangnya” atau “ada bagian saya yang membuat saya tidak tenang” maka itulah ego state. Sebuah ego state merupakan satu bagian dari sekumpulan kelompok yang mempunyai keadaan atau kondisi emosi yang setara, yang dibedakan berdasarkan tugas khusus, perasaan (mood), dan fungsi mental, dimana kesadaran diasumsikan sebagai identitas dari orang tersebut (Hartman & Zimberoff, 2003, Emmerson, 2003). Kumpulan dari ego state membentuk kepribadian utuh dari seseorang dan jumlahnya tidak dapat dihitung akan tetapi dalam satu minggu ego state seseorang yang muncul berjumlah sekitar 5 hingga 15 ego state (Emmerson, 2003). Ego state mulai berkembang ketika masa kanak-kanak dimana otak mulai berkembang. Semua ego state berkembang untuk memuaskan beberapa kebutuhan (Arif, 2011). Awal munculnya ego state diawali dengan penanaman nilai (imprint) yang diberikan oleh orang tua kepada anak serta penguatan berupa penghargaan secara verbal sehingga ego state semakin berkembang dan menjadi ego state yang matang (Watkins & Watkins, 1997; Emmerson 2007).
Setiap ego state memiliki potensi untuk konflik dan melakukan sabotase diri. Fenomena ini dapat kita lihat pada seseorang yang mengalami trauma. Misalkan korban trauma akibat kekerasan seksual. Ada bagian diri yang berkata “saya ingin terbebas dari rasa bersalah dan menjalani hidup lebih baik”. Tetapi bagian diri yang lain merasakan bahwa “saya sudah tidak suci lagi. Saya berdosa dan jijik”. Disini terjadi konflik ego state dimana ego state yang merasa bersalah tumbuh dan berkembang diakibatkan dari perasaan luka yang dalam karena trauma. Van der Kolk (1994) menjelaskan bahwa ketika seseorang mengalami trauma, memori yang berkaitan dengan peristiwa trauma akan menempel di dalam otak pada bagian non verbal, tidak sadar dan sangat sulit untuk diakses. Ego state yang tumbuh akibat pengalaman traumatis kadangkala melakukan manipulasi dengan cara menekan memori menyakitkan tersebut agar tidak muncul kembali (Hartman & Zimberoff, 2003).
Strategi konseling dengan menggunakan ego state therapy adalah dengan cara menemukan ego state yang terluka (vaded) akibat trauma kemudian mencari ego state lain yang dapat menenangkan atau membantunya sehingga menjadi lebih produktif dan saling melindungi (Watkins & Watkins, 1997; Emmerson, 2003; Forgas & Knipe, 2008).
Dasar-Dasar Ego state therapy
Kepribadian bukan merupakan satu kesatuan meskipin kelihatannya sama akan tetapi kepribadian terpisah, bermacam-macam dan memiliki tujuan yang berbeda. Istilah ego state memang bukanlah yang pertama kali karena istilah ego pertama kali muncul dan diperkenalkan oleh pakar psikoanalisis yaitu Sigmund Freud. Konsep psikoanalisis menjelaskan bahwa dinamika kepribadian individu terdiri dari tiga komponen yakni id (dorongan biologis), ego (dorongan sosial), super ego (dorongan moral). Tetapi konsep ego state berbeda dengan ego dan super ego yang dalam psikoanalisis. Orang yang pertama kali memperkenalkan istilah ego state adalah Paul Federn, seorang psikoterapis yang belajar psikoanalis langsung pada Sigmund Freud (Barabasz et all, 2011). Federn berpendapat bahwa kepribadian seseorang terdiri dari bagian-bagian (parts) dan disebut ego state. Ketika individu melakukan dan merasakannya, maka ini disebut dengan ego identity (Arif, 2011).
Eloardo Weiss (Barabasz et all, 2011) yang merupakan murid dari Federn mendalami konsep ego state dalam kepribadian. Tetapi baik Federn maupun Weiss tidak menggunakan konsep ego state dalam proses terapinya dan masih menggunakan psikoanalisis dalam melakukan konseling dan terapi. Seorang psikolog berkebangsaan amerika yang bernama Jhon G. Watkins yang belajar psikoanalisis dari Weiss mengembangkan konsep ego state menjadi lebih mudah dipahami. Watkins menggunakan konsep ego state dalam terapi dan melakukan eksperimen dengan menggunakan kondisi hipnosis, berbicara langsung pada bagian kepribadian (subpersonality) yang bermasalah dan berhasil membantu korban-korban trauma perang dunia kedua. Pada tahun 1970, J.G. Watkins dan istrinya H. H. Watkins menerbitkan istilah ego state therapy di beberapa makalah, jurnal dan menulis buku Ego State : Theory and Therapy pada tahun 1997.
Konsep ego state juga digunakan dalam pendekatan Transactional Analysis Therapy akan tetapi istilah ego state yang dipaparkan Eric Berne (1961) berbeda dengan ego state yang dipaparkan oleh J. G Watkins dan H.H Watkins. Ego state dalam transactional analysis merupakan konsep komunikasi interaksional bagian diri yang terdiri dari tiga yaitu ego state anak, ego state dewasa dan ego state orang tua. Sementara dalam konsep ego state therapy, jumlah ego state tidak terhitung karena ego state merupakan bagian dari kepribadian yang memiliki kondisi perasaan yang setara, logika, keterampilan dan terus berkembang (Hartman & Zimberoff, 2003).
Dalam proses terapinya, J.G. Watkins seringkali menggunakan kondisi hipnosis sehingga memungkinkan untuk membagi ego state yang terluka dengan ego state yang lainnya. Kondisi hipnosis sangat direkomendasikan dalam ego state therapy (Barabasz & Watkins, 2008; Barabasz et all, 2011; Emmerson, 2003; Watkins & Watkins, 1997).
Kondisi Alami Ego state
Dalam melakukan proses konseling dengan menggunakan teknik ego state therapy diperlukan pemahaman mengenai kondisi alami sehingga memudahkan kita dalam melakukan intervensi. Bahkan Helen H. Watkins (1993) mengingatkan untuk hati-hati dalam melakukan persuasi dengan ego state dalam kondisi hipnosis karena sugesti yang diberikan dapat membuat ego state baru yang bersipat merusak dalam diri individu. Untuk itu, Emmerson (2003) menjelaskan ada beberapa kondisi alami ego state yang harus dipahami oleh seorang konselor :
1. Ego state tidak dapat dihilangkan atau disingkirkan, tetapi dapat kita ganti tugasnya
2. Normalnya, ego state dapat mengekspresikan berapa tua umur perasaan tersebut
3. Ego state dapat memilih untuk bersembunyi atau menjadi tidak aktif dan mereka dapat berubah, mereka biasanya memilih nama baru, misalkan dari cemas menjadi percaya diri
4. Ego state pastilah bagian dari orang tersebut
5. Ego state mempunyai identitas, jadi ketika ego state menjadi executive (muncul secara sadar), dia berbicara seperti orang pertama dan membicarakan state yang lain sebagai sesuatu yang lain
6. Ego state mempunyai perasaan dan mereka tidak suka dengan komentar kasar terhadap mereka, baik secara langsung atau melalui state yang lain. Bila itu terjadi, mereka menolak untuk berbicara dan bekerjasama.
7. Setiap orang pasti mempunyai ego state walau jumlah ego state dan bentuknya bisa berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain
Kondisi alami ego state yang dipaparkan di atas merupakan bagian penting yang harus diperhatikan oleh konselor dalam melakukan konseling ego state therapy. Arif (2011) menjelaskan bahwa kondisi alami ego state ini adalah cara pandang yang harus dimiliki seorang konselor yang menggunakan ego state therapy dalam membantu menangani permasalahan konseli. Pada akhirnya, dengan memahami kondisi alami ego state akan membuat sesi konseling menjadi efektif dan efisien.
Selain memahami kondisi alami ego state yang dapat diaplikasi dalam konseling, konselor juga harus memahami empat kondisi ego state berdasarkan pada fungsinya. Emmerson (2003) menjelaskan ada empat kondisi ego state dalam diri kita :
1. Normal ego state yaitu ego state yang berperan positif. Tujuan inti dari ego state therapy adalah untuk membantu semua state berfungsi menjadi normal kembali.
2. Vaded ego state yaitu ego state yang bersipat menganggu sehingga membuat orang tersebut sering melakukan tindakan yang tidak ingin dilakukan. Vaded ego state muncul karena trauma dan penolakan di masa lalu dan tidak terselesaikan. Bila vaded ego state ini menjadi executive akan membuat perasaan orang tersebut menjadi buruk bahkan menjadi di luar kendali dan tidak dapat melakukan sesuatu yang diinginkannya.
3. Retro ego state yaitu ego state yang muncul dan berkembang di masa lalu, ego state ini tercipta sejak kita masih kecil dan dulu state ini berguna atau digunakan tetapi sekarang sudah tidak berguna lagi. Tetapi kadang suka muncul dan menganggu atau menguntukan seseorang.
4. Conflicted ego state yaitu beberapa ego state yang saling berkonflik dan kadang menjadi masalah bagi orang tersebut. Sebenarnya, conflicted ego state mempunyai maksud positif tetapi kadang mereka bertengkar atau berbeda pendapat secara internal. Contoh : “saya ingin lepas dari rasa takur naik motor setelah kecelakaan tapi bila naik, saya khawatir terjadi kecelakaan lagi”
Tujuan dari Ego State Therapy
Tujuan inti dari ego state therapy adalah membuat ego state yang vaded, retro atau konflik menjadi ego state normal sehingga individu terbebas dari sabotase diri dan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya (Watkins & Watkins, 1997; Barabasz & Watkins, 2008). Secara garis besar, Emmerson (2003) merumuskan tujuan ego state therapy meliputi :
1. Mengalikasikan dimana adanya kesakitan, trauma, kemarahan atau frustrasi dalam ego state dan memfasilitasi ekspresi, melepaskan emosi negatif, memberikan rasa nyaman serta memberdayakan diri
2. Memfasilitasi fungsi komunikasi di antara ego state
3. Menolong klien mengenal ego state mereka sehingga klien dapat memetik kentungan yang lebih
4. Mengatasi konflik diri atau konflik ego state
Bagi korban yang mengalami trauma, konseling dengan menggunakan ego state therapy bertujuan untuk menemukan ego state yang terluka (vaded) kemudian memfasilitasi proses pelepasan emosi negatif dan ekspresi setelah itu mencari ego state lain yang dapat membantu dan melindungi ego state yang terluka (Barabasz et all, 2011). Proses pelepasan trauma dalam ego state therapy terjadi ketika ego state yang terluka tidak lagi menjadi ego state yang excecutive. Orang yang mengalami trauma melewati rasa takutnya dan secara cepat ego state menjadi normal dan saling memberikan penguatan (Barabasz & Watkins, 2008).
Teknik-Teknik Konseling dalam Ego State Therapy
Ego state therapy menekankah pada analisis komunikasi terhadap fungsi dan peranan ego state terhadap individu. Terdapat dua teknik yang sering digunakan dalam ego state therapy (Emmerson, 2003; Arif, 2011; Watkins & Watkins 1997) diantaranya adalah :
1. Ego state therapy tanpa menggunakan kondisi hipnosis
Adapun teknik yang seringkali digunakan dalam terapi ego state yang tidak memanfaatkan kondisi hipnosis dalam proses terapinya adalah
a. Empty Chair Technique yaitu teknik terapi ego state dengan menggunakan kursi sebagai media dalam memfasilitasi komunikasi antar ego state. Teknik ini sangat cocok bagi individu yang kurang bisa melakukan imajinasi karena dengan menggunakan kursi kosong seseorang akan terbantu dengan lebih mudah untuk mengakses ego state atau perasaannya. Teknik ini merupakan pengembangan dari gestalt therapy, yang membedakannya adalah selama sesi konseling ego state therapy, kursi yang dibutuhkan sekitar 5 sampai 10 kursi. Tujuan dari kursi kosong ini adalah sebagai manifestasi dari ego state dari individu agar dapat berkomunikasi dan mengubah vaded, retro atau conflicted ego state menjadi normal ego state.
b. Conversational Technique yaitu teknik terapi ego state yang dilakukan selayaknya percakapan biasa. Teknik ini sangat membantu dalam sebagai persiapan melakukan resistence bridging yakni teknik untuk mencari akar masalah. Teknik percakapan hampir sama dengan teknik kursi kosong, yang membedakannya adalah disini tidak mencari akar masalah dalam konselingnya akan tetapi fokus pada komunikasi antara ego state yang terluka (vaded) dan mencari ego state pelindung (protector).
2. Ego State Therapy dengan menggunakan kondisi hipnosis
Hipnosis adalah suatu keadaan fokus, tenang, dan relaks sehingga dapat mencerna informasi atau sugesti yang masuk ke dalam pikiran. Korban yang mengalami gangauan stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder) dan gangguan stress akut (Acute Stress Disorder) memiliki kemampuan masuk kondisi hipnosis yang sangat tinggi dibanding dengan orang biasa (Yard, DuHamel, & Galynker, 2008). Pendapat lain dikemukakan oleh Hilgard (Watkins, 1993) yang menjelaskan hipnosis berkaitan dengan fokus yang tinggi dan proses pemisahan diri (disosiative). Melalui hipnosis, konselor dapat secara efektif memanggil dan memisahkan ego state yang terluka serta melakukan proses pelepasan emosi. Kondisi hipnosis merupakan bagian terpenting dalam satu sesi ego state therapy (Emmerson, 2003; Barabasz et all, 2011).
Kondisi hipnosis digunakan untuk mencari akar masalah (root cause) yang menjadi permasalahan klien. Emmerson (2003) menjelaskan dalam kasus trauma, kondisi hipnosis digunakan untuk mencari ego state yang terluka (vaded) kemudian melakukan pelepasan emosi melalui ekspresi terhadap ego state yang negatif (maladaptive ego state) yaitu dengan cara melakukan regresi atau kembali kepada memori masa lalu yang menjadi pemicu trauma kemudian melakukan rekonstruksi yang positif terhadap peristiwa itu (Abramowitz & Lichtenberg, 2010; Watkins & Watkins, 1997).
Barabasz et all (2011) memaparkan langkah-langkah satu sesi ego state therapy dengan menggunakan hipnosis yang bisa dilakukan oleh konselor diantaranya : (1) melakukan induksi secara tidak langsung kepada konseli untuk memasuki kondisi hipnosis. Setelah itu konseli dibantu untuk mengingat kembali memori masa lalu yang menjadi pemicu trauma dengan menggunakan teknik regresi. Emmerson (2003) menjelaskan untuk menghindari konseli yang takut dihipnosis, konselor dapat menggunakan teknik induksi secara tidak langsung (indirect hypnosis) dan teknik resistence bridging sebagai teknik regresi permisif dimana konseli tidak tahu sedang dihipnosis. (2) selanjutnya konselor melakukan proses ekspresi terhadap ego state yang negatif (maladaptive ego state). Ketika proses ekspresi dilakukan konselor membantu konseli untuk melepaskan dan meluapkan seluruh emosi yang tersimpan di dalam pikiran bawah sadar konseli. (3) tahapan akhir adalah melakukan penanganan (reliefe) yakni proses komunikasi antara ego state dimana ego state yang terluka dibantu oleh ego state yang lebih dewasa (nurturance).
Prosedur Konseling Traumatik melalui Ego State Therapy
Konseling merupakan pemberian bantuan yang sangat tepat bagi korban yang mengalami trauma. Weaver et all (2003) menjelaskan pemberian konseling merupakan dukungan utama bagi korban yang mengalami stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder). Konselor yang menggunakan terapi ego state membantu untuk menyembuhkan masalah trauma yang dihadapi oleh konseli. Ketika masalah trauma terselesaikan, gejala-gejala trauma seperti kecemasan, takut yang berlebihan mulai menghilang karena sudah tidak lagi dalam pengendalian ego state yang negatif (Barabasz et all, 2011).
Pengalaman traumatis yang selalu teringat akan ditekan oleh pikiran dan tersimpan di dalam pikiran bawah sadar. Oleh karena itu, ego state yang muncul akibat trauma akan melakukan manipulasi perilaku dengan cara menghindari (avoidance) dari segala hal yang berkaitan dengan kejadian yang menjadi pemicu trauma. Forgash & Knife (2008) menjelaskan manipulasi ego state yang dilakukan untuk menghindari trauma seperti sulit berkonsentrasi, marah yang meledak-ledak, menghindari orang-orang dan segala hal yang mengingatkan kejadian trauma, kaku, merasa terisolasi, distress dan kurang kepercayaan baik pada diri maupun orang lain. Untuk itu, konseling traumatik dengan menggunakan ego state therapy dapat digunakan sebagai intervensi pendekatan untuk menghilangkan gejala-gejala trauma yang dirasakan oleh konseli.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sindrom trauma seperti gangguan stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder) dan gangguan stress akut (Acute Stress Disorder) secara efektif dapat dihilangkan dengan menggunakan ego state therapy (Watkins & Watkins, 1997; Barabasz & Watkins, 2008; Abramowitz & Lichtenberg, 2010; Arif, 2011). Teknik ego state therapy yang secara efektif dapat membantu menangani trauma adalah dengan menggunakan kondisi hipnosis (Emmerson, 2003). Melalui kondisi hipnosis, konselor dapat secara cepat menemukan akar masalah dan ego state yang terluka serta melakukan proses ekspresi dan pelepasan emosi. Adapun gambaran secara detail mengenai manual satu sesi konseling traumatik dengan menggunakan ego state therapy adalah sebagai berikut :
1. Tahapan pertama yang harus dilakukan oleh konselor adalah mengakses ego state (Accessing ego state) dengan menggunakan teknik Resistence Deepening
Dalam kasus traumatik, konselor mengeksplorasi untuk menemukan ego state yang terluka. Konselor membimging konseli untuk memasuki kondisi hipnosis dengan teknik resistence deepening yang tanpa disadari konseli sudah berada dalam kondisi hipnosis. Arif (2011) menjelaskan bahwa teknik resistence deepening diciptakan untuk orang yang cenderung menghindar atau takut dihipnosis. Emmerson (2003) mencipatakan teknik ini dengan memanfaatkan trance atau kondisi hipnosis dengan mata terbuka. Teknik resistence deepening menekankan pada unsur perasaan saat melakukan pengambilan kondisi hipnosis.
Langkah awal yang dapat konselor lakukan dalam melakukan teknik adalah dengan meminta konseli untuk membayangkan situasi yang membuat dia trauma dan menanyakan perasaan yang muncul ketika dalam situasi tersebut. Tahapan pertama ini bertujuan untuk mengakses ego state yang terluka atau kondisi yang membuat konseli trauma. Pengalaman traumatis biasanya membuat konseli mengalami ketakutan yang sangat kuat ketika menghadai situasi yang menjadi pemicu trauma dan saat itulah ego state yang terluka muncul (executive). Misalnya pada kasus trauma naik motor. Dalam mengakses ego state yang terluka, konselor dapat meminta konseli untuk membayangkan konseli duduk di atas motor dan tanyakan bagaimana perasaannya.
Selain itu, konselor memberikana nama kepada ego state yang terluka tersebut. Konselor menanyakan kepada konseli mengenai nama dari ego state ini. Tujuannya adalah supaya konselor lebih mudah berkomunikasi dengan ego state yang merupakan bagian dari konseli. Contohnya pada kasus di atas, konseli merasa ketakutan ketika naik motor dan memberi namanya dengan “si takut”. Setelah itu tanyakan pada ego state apa fungsi “si takut” untuk konseli. Hal ini dilakukan agar konselor mengetahui fungsi ego state bagi konseli. Karena pada dasarnya setiap ego state memliki niat dan fungsi yang baik bagi dirinya (Emmerson, 2003).
Kemudian konselor melakukan cek skala kedalaman dari 1 sampai 10. Angka 10 menandai bahwa emosi sangat terasa dan 1 jika emosi tersebut tidak terasa. Tanyakanlah pada konseli “Ada di angka berapa emosi yang saat ini anda rasakan ?”, bila angkanya rendah misalkan 6, konselor meminta konseli untuk melipatgandakan perasaan itu sampai sembilan atau sepuluh.
2. Tahapan selanjutnya melakukan regresi dengan menggunakan teknik Resistence Bridging
Langkah selanjutnya adalah melakukan regresi yaitu membawa konseli ke dalam memori situasi atau peristiwa pertama kali munculnya ego state yang terluka. Emmerson (2003) menjelaskan bahwa teknik resistence bridge adalah sebuah teknik hipnosis yang membawa konseli untuk berpindah secara langsung setelah selesai melakukan teknik resistence deepening. Penggunaan teknik ini diintegrasikan secara langsung setelah melakukan teknik resistence deepening.
Pada kasus di atas, setelah konselor membimbing konseli merasakan intensitas emosi sampai angka 10, setelah itu gunakan teknik resistence bridging dengan menanyakan konseli sebagai berikut : (a) Menurut anda, perasaan (emosi) ini tua atau muda?; (b) Pada sekitar umur berapa, perasaan ini muncul pertama kali?; (c) Silahkan menjadir umur (sebutkan umur berapa yang muncul dari jawaban b); (d) Peristiwa ini sepertinya terjadi di dalam atau diluar ruangan?; (e) sendiri atau bersama orang lain?; (f) Ceritakan apa yang terjadi disana. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan teknik untuk mengeksplorasi muncul pertama kalinya ego state yang terluka.
3. Tahapan selanjutnya adalah melakukan proses ekspresi terhadap ego state yang negatif (introject) yang memunculkan pengalaman traumatis
Setelah akar masalah yang menjadi pengalaman traumatis bagi konseli diketahui, langkah selanjutnya adalah melakukan proses ekspresi terhadap ego state negatif (introject). Dalam tahapan ini, konseli harus mengekspresikan dan mengungkapkan permasalahan atau emosi yang terpendam. Secara khusus ego state yang mengekpresikan emosi tersebut harus ego state yang terluka. Misalkan Si Marah mengekspresikan kemarahannya pada orang yang menabrak motor konseli sebagai orang yang telah melukai hatinya tanpa ia bisa mengungkapkan dihadapannya secara langsung. Tujuan dari proses ekspresi adalah untuk melepaskan semua emosi yang terpendam dalam diri konseli dan seringkali menjadi masalah yang memicu untuk munculnya gejala-gejala trauma (Barabasz et all, 2011).
4. Tahapan selanjutnya adalah melakukan removal atau pelepasan
Setelah proses mengekspresikan perasaan selesai, dilakukan proses removal atau pelepasan rasa kesal. Konselor harus membantu ego state yang terluka untuk melakukan pelepasan dari ego state negatif yang masih melekat. Ada dua cara yang dapat dilakukan oleh konselor : (a) bila ego state yang negatif (introject) itu adalah lain atau sesuatu, buatlah menjadi sesuatu yang sangat kecil ukurannya dan konselor membantu konseli untuk mengusirnya. Cara mengusinya adalah dengan menanyakan langsung pada konseli. Konselor dapat membantu dengan menanyakan “Apakah mau ditendang atau ditiup?” atau mau diambil pakai tangan lalu dibuang?” (b) bila ego state yang negatif itu adalah orang tua, dilakukan proses pemaafan dengan teknik forgiveness antara konseli dan orang tuanya.
5. Tahapan selanjutnya adalah melakukan proses relief atau penenangan
Setelah melakukan proses pelepasan ego state negatif, langkah selanjutnya adalah mekakukan proses penenangan (relief) yaitu dengan memanggil ego state yang lebih dewasa (mature) dan mau mengasuh (nurturing) ego state yang terluka tadi. Bila ego state yang dwasa dan mau mengasuh tidak muncul sama sekali, maka konselor dapat memanggil ego state introject yang lebih dewasa dan mau mengasuh ego state yang terluka tersebut. Caranya adalah konselor dapat meminta konseli untuk memanggil bagian dari konseli yang lebih dewasa dan matang kemudian beri nama ego state tersebut. Misalkan Si Tenang yang muncul pada konseli, langkah selanjutnya konselor membantu konseli untuk melakukan proses penenangan dengan cara meminta ego state “si tenang” untuk mau mengasuh dan menyayangi ego state “si takut”. Prosesnya adalah dengan cara konseli mengungkapkan secara lisan pada ego state “si takut” dan memfasilitasi komunikasi antara ego state yang dewasa (mature) dan ego state yang terluka. Bila ego state “si takut” sudah merasa tenang, langkah selanjutnya adalag mengubah nama ego state yang terluka (si takut) menjadi nama ego state yang lebih positif, misalkan ego state “berani”.
C. Kesimpulan
Konseling bagi konseli yang mengalami pengalaman traumatis merupakan bantuan utama yang harus segera diberikan. Hal ini dilakukan agar gejala-gejala trauma yang dirasakan menghilang dan konseli dapat menjalani hidup dengan bahagia tanpa diikuti rasa takut yang berlebihan. Ego state therapy merupakan teknik yang simple dan luar biasa dapat secara efektif menangani kasus trauma. Konseling traumatik menggunakan ego state therapy adalah model konseling yang menyembuhkan pengalaman traumatis seseorang melalui proses ekspresi, pelepasan dan penenangan ego state yang terluka. Hal ini dilakukan dengan cara mencari ego state yang lebih dewasa (mature) dan mau mengasuh (nurturing) ego state yang terluka. Untuk itu, konseling traumatik dengan menggunakan teknik ego state therapy dapat menjadi solusi dalam menangani kasus-kasus trauma.
DAFTAR PUSTAKA
Abramowitz, E., & Litchtenberg, P. (2010). A New Hypnotic Technique For Treating Combat Related Post Traumatic Stress Disorder : A Prospective Open Study. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, 58, 316–328.
Arif, Antonius. (2011). Ego State Therapy. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Barabasz, Arreed, Marianne Barabasz & Jhon G. Watkins. (2011). Single-Session Manualized Ego State Therapy For Combat Stress Injury, Post Traumatic Stress Disorder, Acuted Stress Disorder, Part 1 : The Theory. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, 59, 379-391.
Carll, Elizabeth K. (2007). Trauma Psychology : Issues In Violence, Disaster, Health, and Illness. United Kingdom : Greenwood Publishing Group, Inc.
Emmerson, Gordon. (2003). Ego State Therapy. Carmethen, United Kingdom : Crown House
Flanagan, Jhon-Sommers & Rika-Sommers Flanagan. (2004). Counselling and Psychotherapy Theory In Context and Practice. New Jersey : Jhon Wiley and Son, Inc.
Forgash, Carol & Jim Knipe. (2008). Integrating EMDR and Ego State Therapy for Client with Trauma Disorder. In Carol L. Forgash and Margaret Copeley, Healing Trauma with EMDR and Ego State Therpay. (pp. 91-120). New York, NY : Springer Publishing.
Hartman, David & Diane Zimberoff. (2003). Ego State In Heart-Centered Therapies. Journal of Heart-Centered Therapies, Vol. 6, No. 1, pp. 47-92
Hawkins, Peter J. (2000). Hypnosis in Counselling and Psychotherapy. In Stephen Palmer, Introduction to Counselling and Psychotherapy : Essential Guide. London : Sage Publication Ltd
Herman, J. L. (1992). Trauma and recovery: The aftermath of violence—From domestic abuse to political terror. New York: Basic Books.
Hull, A. M. (2002). Neuroimaging Findings In Post Traumatic Stress Disorder. British Journal of Psychiatry, 181,102–110.
Litz, B. T. (1992). Emotional Numbering In Combat Related Post Traumatic Stress Disorder: A Critical Review and Reformation. Clinical Psychology Review, 12,417–432.
Lynn, Steve Jay & Judith W. Rhue. (1991). Theory of Hypnosis : Current Models and Perspective. New York : The Guilford Press
Neukrug, Ed. (2012). The World of Counselor : An Introduction to The Counseling Profession. Belmont, CA : Brooks/Cole
Okawa, Judy B. & Ronda B Hauss. (2007). The Trauma of Politically Motivated Torture. In Elizabeth K. Carll, Trauma Psychology : Issues In Violence, Disaster, Health, and Illness. (pp. 33-60) United Kingdom : Greenwood Publishing Group, Inc.
Philips, Maggie. (2001). Healing The Divided Self. In Raymond J. Corsini, Handbook of Innovative Therapy. (pp. 279-292). New York, NY : Jhon Wiley & Son, Inc.
Philips, Maggie. (2008). Combinging Hypnosis with EMDR and Ego State Therapy for Ego Strengthening, In Carol L. Forgash and Margaret Copeley, Healing Trauma with EMDR and Ego State Therpay. (pp. 91-120). New York, NY : Springer Publishing
Van der Kolk, B. (1994). Psychobiology of Post Traumatic Stress Disorder. In J. Panksepp (Ed.), Text Book of Biological Psychiatry (pp. 319–344). New York, NY : Wiley-Liss
Watkins, Jhon G. & Watkins, Helen H. (1997). Ego State : Theory and Therapy. New York, NY : Norton & Company
Watkins, Jhon G. & Barabasz, Arreed. (2005). Hypnotherapeutic Techniques 2E. New York, NY : Routledge
Watkins, Jhon G. & Barabasz, Arreed. (2008). Advanced Hypnotherapy : Hypnodynamic Technique. New York, NY : Routledge
Watkins, Helen Huth. (1993). Ego State Therapy : Overview. American Journal of Clinical Hypnosis. Vol. 35, No. 4, pp 232–240.
Weaver, Andrew J. et all. (2003). Counseling Survivors of Traumatic Events : A Handbook for Pastoral and Other Helping Professional. Nashville : Abingdon Press
Yard, S., DuHamel, K., & Galynker, I. (2008). Hypnotizability As A Potential Risk Factor For Post Traumatic Stress : A Review of Quantitative Studies. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, 56, 334–356
Senin, 09 Juli 2012
Konseling Traumatik Menggunakan Ego State Therapy
Konseling Traumatik Menggunakan Ego State Therapy
(Traumatic Counseling Using Ego State Therapy)
Abstract. Traumatic experience make people not happy and fears in life. Because of that needs traumatic counseling to remove and healing trauma symptoms. Ego state therapy is a powerful and brief therapy based on the premise that personality is composed of separate parts, rather than being a homogeneous whole. Ego state therapy could effectively for handling trauma and fears. Based on study, trauma memories are encoded in the subconscious mind. Traumatic counseling using ego state therapy technique purpose for remove trauma symptom. Because of trauma memories encoded in the subconscious mind, then single-session ego state therapy would effectively using hypnosis condition in therapy. Process of ego state therapy using hypnosis consist of accessing vaded ego state, doing regression for knowing the root cause of trigger trauma. Then, doing process of expression, removal and reliefe of vaded ego state which us
Key Word : Traumatic, Counseling, Ego state therapy
Abstrak. Pengalaman traumatis membuat seseorang menjadi tidak bahagia dan sering diliputi rasa takut yang berlebihan. Untuk itu, diperlukan layanan konseling traumatic untuk menghilangkan gejala-gejala trauma yang dialami oleh konseli. Ego state therapy merupakan teknik terapi singkat yang berdasar pada premis kepribadian yang terdiri dari bagian-bagian (parts) terpisah. Ego state therapy dapat secara efektif menangani kasus trauma dan rasa takut yang berlebihan Berdasarkan hasil studi menjelaskan memori trauma tersimpan didalam memori pikiran bawah sadar. Untuk itu, konseling traumatik dengan menggunakan teknik ego state therapy bertujuan menghilangkan gejala-gejala trauma. Karena memori trauma tersimpan dalam pikiran bawah sadar, maka satu sesi ego state therapy akan lebih efektif dengan menggunakan kondisi hipnosis dalam proses terapinya. Proses ego state therapy dengan menggunakan kondisi hipnosis terdiri dari mengakses ego state yang terluka, melakukan regresi untuk mengetahui akar masalah pemicu trauma. Setelah itu, melakukan proses ekpresi, pelepasan dan penenangan ego state yang terluka dengan mencari ego state yang lebih dewasa dan mau mengasuh.
Kata Kunci : Trauma, Konseling, Ego state therapy
A. Pendahuluan
Pengalaman traumatis merupakan pengalaman menyakitkan yang dapat membuat seseorang tidak bahagia dalam hidupnya. Orang yang mengalami trauma ceerung melakukan penghindaran, cemas yang tinggi, depresi, selalu teringat kejadian yang menyakitkan, rasa waspada yang berlebihan dan mati rasa emosi (Litz, 1992). Pengalaman traumatis terjadi ketika seseorang mengalami atau menyaksikan suatu ancaman yang mengancam dirinya dan meresponnya dengan rasa takut dan rasa tidak berdaya (Forgash & Knipe, 2008; Carll, 2007). Peristiwa atau kejadian yang menekan diluar pengalaman manusia pada umunya seperti perkosaan, bencana alam, kecelakaan, kekerasan seksual, perang atau penyiksaan (Barabaz et al, 2011; Carll, 2007). Pengalaman traumatis yang dialaminya seolah-olah menjadi katalisator mengingat kembali pengalaman yang menyakitkan yang dialaminya.
Efek lain yang dirasakan ketika mengalami trauma adalah dengan tidak mampunya seseorang dalam mengontrol emosi. Penelitian menunjukkan ketika seseorang mengalami trauma, ada bagian dari otak yang mengatur emosi menjadi semakin aktif dan tidak terkendali (Hull, 2002; Van Der Kolk, 2007; Barabaz et al, 2011). Untuk itu, orang yang mengalami pengalaman traumatis harus segera mendapatkan pemberian bantuan secara psikologis untuk menghilangkan gangguan-gangguan yang dirasakan. Carll (2007) menambahkan peristiwa trauma dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder / PTSD) meliputi perasaan takut yang berlebihan, tidak berdaya dan cemas. Gejala utama bagi orang yang mengalami PTSD adalah seolah-olah orang tersebut mengalami dan merasakan kembali pengalaman yang membuat trauma (seperti mimpi buruk, pikiran yang terus menganggu, dan selalu teringat kejadian trauma); melakukan penghindaran terhadap semua hal yang mengingatkannya terhadap kejadian (mengindari pikiran, orang, aktivitas dan segala hal yang berkaitan dengan kejadian trauma); sulit untuk konsentrasi, sulit tidur dan amarah yang meledak-ledak (Herman, 1992; Forgash & Knipe, 2008; Carll, 2007).
Trauma tidak hanya terjadi dalam setting masyarakat, karena saat ini trauma juga dapat terjadi dalam setting pendidikan khususnya sekolah. Fakta yang menarik adalah rata-rata trauma dialami oleh siswa yang sedang belajar di sekolah. Seperti yang dilansir www.metrotvnews.com (Sabtu, 21 April 2012) tentang seorang siswa SD di Bulukumba yang trauma dan tidak mau ke sekolah karena diinjak oleh guru. Berita lain dimuat oleh www.surabaya.detik.com (Rabu, 4 April 2012) yang memuat tentang siswa SD di Mojokerto yang tidak berani sekolah karena trauma dipukul guru agama. Fakta yang menarik ditemukan bahwa kebanyakan korban trauma adalah siswa dan yang menjadi pelakunya adalah guru sebagai tenaga pendidik. Okawa & Hauss (2007) menjelaskan bahwa kekerasan (abuse) yang dialami akan menyebabkan trauma yang ditandai dengan kecemasan yang tinggi, menghindari situasi sosial, emosi yang labil dan depresi.
Untuk itu, konseli yang mengalami trauma perlu mendapatkan proses bantuan berupa konseling traumatik agar hidupnya bahagia dan terbebas dari ketakutan dan kecemasan yang menghantuinya. Makalah ini menyajikan sebuah pendekatan dan teknik terapi singkat ego state therapy yang secara efektif dapat menyembuhkan orang yang mengalami trauma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ego state therapy secara efektif dapat digunakan dalam membantu masalah seperti post traumatic stress disorder (PTSD), depresi, multiple personality disorder, adiksi, manajemen rasa marah, trauma, panic attack, obsessive compulsive disorder dan kecemasan (Barabaz & Watkins, 2008; Watkin & Watkins, 1997; Emmerson; 2007; Philips, 2008).
B. Pembahasan
Untuk memahami lebih jauh bagaimana gambaran konseling traumatik dengan menggunakan ego state therapy berikut ini akan dijelaskan mengenai definisi ego etate therapy, dasar-dasar ego state therapy, kondisi alami ego state, tujuan dari ego state therapy, teknik-teknik terapi dalam ego state dan prosedur praktek konseling traumatik melalui ego state therapy.
Definisi Ego state therapy
Ego state therapy merupakan teknik terapi singkat yang berdasar pada premis kepribadian yang terdiri dari bagian-bagian (parts) terpisah dan ini disebut ego state (Emmerson, 2003). Ego state seringkali disebut bagian kecil dari kepribadian seseorang. J.G. Watkins & H.H Watkins (1997) mendefinisikan ego state therapy sebagai sebuah terapi yang menggunakan pendekatan individu, keluarga, dan terapi kelompok dalam mengakses dan berhubungan dengan ego state yang bertujuan untuk melepaskan dan mengatasi konflik ego state yang terjadi.
Setiap kali kita berbicara “saya seperti ini orangnya” atau “ada bagian saya yang membuat saya tidak tenang” maka itulah ego state. Sebuah ego state merupakan satu bagian dari sekumpulan kelompok yang mempunyai keadaan atau kondisi emosi yang setara, yang dibedakan berdasarkan tugas khusus, perasaan (mood), dan fungsi mental, dimana kesadaran diasumsikan sebagai identitas dari orang tersebut (Hartman & Zimberoff, 2003, Emmerson, 2003). Kumpulan dari ego state membentuk kepribadian utuh dari seseorang dan jumlahnya tidak dapat dihitung akan tetapi dalam satu minggu ego state seseorang yang muncul berjumlah sekitar 5 hingga 15 ego state (Emmerson, 2003). Ego state mulai berkembang ketika masa kanak-kanak dimana otak mulai berkembang. Semua ego state berkembang untuk memuaskan beberapa kebutuhan (Arif, 2011). Awal munculnya ego state diawali dengan penanaman nilai (imprint) yang diberikan oleh orang tua kepada anak serta penguatan berupa penghargaan secara verbal sehingga ego state semakin berkembang dan menjadi ego state yang matang (Watkins & Watkins, 1997; Emmerson 2007).
Setiap ego state memiliki potensi untuk konflik dan melakukan sabotase diri. Fenomena ini dapat kita lihat pada seseorang yang mengalami trauma. Misalkan korban trauma akibat kekerasan seksual. Ada bagian diri yang berkata “saya ingin terbebas dari rasa bersalah dan menjalani hidup lebih baik”. Tetapi bagian diri yang lain merasakan bahwa “saya sudah tidak suci lagi. Saya berdosa dan jijik”. Disini terjadi konflik ego state dimana ego state yang merasa bersalah tumbuh dan berkembang diakibatkan dari perasaan luka yang dalam karena trauma. Van der Kolk (1994) menjelaskan bahwa ketika seseorang mengalami trauma, memori yang berkaitan dengan peristiwa trauma akan menempel di dalam otak pada bagian non verbal, tidak sadar dan sangat sulit untuk diakses. Ego state yang tumbuh akibat pengalaman traumatis kadangkala melakukan manipulasi dengan cara menekan memori menyakitkan tersebut agar tidak muncul kembali (Hartman & Zimberoff, 2003).
Strategi konseling dengan menggunakan ego state therapy adalah dengan cara menemukan ego state yang terluka (vaded) akibat trauma kemudian mencari ego state lain yang dapat menenangkan atau membantunya sehingga menjadi lebih produktif dan saling melindungi (Watkins & Watkins, 1997; Emmerson, 2003; Forgas & Knipe, 2008).
Dasar-Dasar Ego state therapy
Kepribadian bukan merupakan satu kesatuan meskipin kelihatannya sama akan tetapi kepribadian terpisah, bermacam-macam dan memiliki tujuan yang berbeda. Istilah ego state memang bukanlah yang pertama kali karena istilah ego pertama kali muncul dan diperkenalkan oleh pakar psikoanalisis yaitu Sigmund Freud. Konsep psikoanalisis menjelaskan bahwa dinamika kepribadian individu terdiri dari tiga komponen yakni id (dorongan biologis), ego (dorongan sosial), super ego (dorongan moral). Tetapi konsep ego state berbeda dengan ego dan super ego yang dalam psikoanalisis. Orang yang pertama kali memperkenalkan istilah ego state adalah Paul Federn, seorang psikoterapis yang belajar psikoanalis langsung pada Sigmund Freud (Barabasz et all, 2011). Federn berpendapat bahwa kepribadian seseorang terdiri dari bagian-bagian (parts) dan disebut ego state. Ketika individu melakukan dan merasakannya, maka ini disebut dengan ego identity (Arif, 2011).
Eloardo Weiss (Barabasz et all, 2011) yang merupakan murid dari Federn mendalami konsep ego state dalam kepribadian. Tetapi baik Federn maupun Weiss tidak menggunakan konsep ego state dalam proses terapinya dan masih menggunakan psikoanalisis dalam melakukan konseling dan terapi. Seorang psikolog berkebangsaan amerika yang bernama Jhon G. Watkins yang belajar psikoanalisis dari Weiss mengembangkan konsep ego state menjadi lebih mudah dipahami. Watkins menggunakan konsep ego state dalam terapi dan melakukan eksperimen dengan menggunakan kondisi hipnosis, berbicara langsung pada bagian kepribadian (subpersonality) yang bermasalah dan berhasil membantu korban-korban trauma perang dunia kedua. Pada tahun 1970, J.G. Watkins dan istrinya H. H. Watkins menerbitkan istilah ego state therapy di beberapa makalah, jurnal dan menulis buku Ego State : Theory and Therapy pada tahun 1997.
Konsep ego state juga digunakan dalam pendekatan Transactional Analysis Therapy akan tetapi istilah ego state yang dipaparkan Eric Berne (1961) berbeda dengan ego state yang dipaparkan oleh J. G Watkins dan H.H Watkins. Ego state dalam transactional analysis merupakan konsep komunikasi interaksional bagian diri yang terdiri dari tiga yaitu ego state anak, ego state dewasa dan ego state orang tua. Sementara dalam konsep ego state therapy, jumlah ego state tidak terhitung karena ego state merupakan bagian dari kepribadian yang memiliki kondisi perasaan yang setara, logika, keterampilan dan terus berkembang (Hartman & Zimberoff, 2003).
Dalam proses terapinya, J.G. Watkins seringkali menggunakan kondisi hipnosis sehingga memungkinkan untuk membagi ego state yang terluka dengan ego state yang lainnya. Kondisi hipnosis sangat direkomendasikan dalam ego state therapy (Barabasz & Watkins, 2008; Barabasz et all, 2011; Emmerson, 2003; Watkins & Watkins, 1997).
Kondisi Alami Ego state
Dalam melakukan proses konseling dengan menggunakan teknik ego state therapy diperlukan pemahaman mengenai kondisi alami sehingga memudahkan kita dalam melakukan intervensi. Bahkan Helen H. Watkins (1993) mengingatkan untuk hati-hati dalam melakukan persuasi dengan ego state dalam kondisi hipnosis karena sugesti yang diberikan dapat membuat ego state baru yang bersipat merusak dalam diri individu. Untuk itu, Emmerson (2003) menjelaskan ada beberapa kondisi alami ego state yang harus dipahami oleh seorang konselor :
1. Ego state tidak dapat dihilangkan atau disingkirkan, tetapi dapat kita ganti tugasnya
2. Normalnya, ego state dapat mengekspresikan berapa tua umur perasaan tersebut
3. Ego state dapat memilih untuk bersembunyi atau menjadi tidak aktif dan mereka dapat berubah, mereka biasanya memilih nama baru, misalkan dari cemas menjadi percaya diri
4. Ego state pastilah bagian dari orang tersebut
5. Ego state mempunyai identitas, jadi ketika ego state menjadi executive (muncul secara sadar), dia berbicara seperti orang pertama dan membicarakan state yang lain sebagai sesuatu yang lain
6. Ego state mempunyai perasaan dan mereka tidak suka dengan komentar kasar terhadap mereka, baik secara langsung atau melalui state yang lain. Bila itu terjadi, mereka menolak untuk berbicara dan bekerjasama.
7. Setiap orang pasti mempunyai ego state walau jumlah ego state dan bentuknya bisa berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain
Kondisi alami ego state yang dipaparkan di atas merupakan bagian penting yang harus diperhatikan oleh konselor dalam melakukan konseling ego state therapy. Arif (2011) menjelaskan bahwa kondisi alami ego state ini adalah cara pandang yang harus dimiliki seorang konselor yang menggunakan ego state therapy dalam membantu menangani permasalahan konseli. Pada akhirnya, dengan memahami kondisi alami ego state akan membuat sesi konseling menjadi efektif dan efisien.
Selain memahami kondisi alami ego state yang dapat diaplikasi dalam konseling, konselor juga harus memahami empat kondisi ego state berdasarkan pada fungsinya. Emmerson (2003) menjelaskan ada empat kondisi ego state dalam diri kita :
1. Normal ego state yaitu ego state yang berperan positif. Tujuan inti dari ego state therapy adalah untuk membantu semua state berfungsi menjadi normal kembali.
2. Vaded ego state yaitu ego state yang bersipat menganggu sehingga membuat orang tersebut sering melakukan tindakan yang tidak ingin dilakukan. Vaded ego state muncul karena trauma dan penolakan di masa lalu dan tidak terselesaikan. Bila vaded ego state ini menjadi executive akan membuat perasaan orang tersebut menjadi buruk bahkan menjadi di luar kendali dan tidak dapat melakukan sesuatu yang diinginkannya.
3. Retro ego state yaitu ego state yang muncul dan berkembang di masa lalu, ego state ini tercipta sejak kita masih kecil dan dulu state ini berguna atau digunakan tetapi sekarang sudah tidak berguna lagi. Tetapi kadang suka muncul dan menganggu atau menguntukan seseorang.
4. Conflicted ego state yaitu beberapa ego state yang saling berkonflik dan kadang menjadi masalah bagi orang tersebut. Sebenarnya, conflicted ego state mempunyai maksud positif tetapi kadang mereka bertengkar atau berbeda pendapat secara internal. Contoh : “saya ingin lepas dari rasa takur naik motor setelah kecelakaan tapi bila naik, saya khawatir terjadi kecelakaan lagi”
Tujuan dari Ego State Therapy
Tujuan inti dari ego state therapy adalah membuat ego state yang vaded, retro atau konflik menjadi ego state normal sehingga individu terbebas dari sabotase diri dan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya (Watkins & Watkins, 1997; Barabasz & Watkins, 2008). Secara garis besar, Emmerson (2003) merumuskan tujuan ego state therapy meliputi :
1. Mengalikasikan dimana adanya kesakitan, trauma, kemarahan atau frustrasi dalam ego state dan memfasilitasi ekspresi, melepaskan emosi negatif, memberikan rasa nyaman serta memberdayakan diri
2. Memfasilitasi fungsi komunikasi di antara ego state
3. Menolong klien mengenal ego state mereka sehingga klien dapat memetik kentungan yang lebih
4. Mengatasi konflik diri atau konflik ego state
Bagi korban yang mengalami trauma, konseling dengan menggunakan ego state therapy bertujuan untuk menemukan ego state yang terluka (vaded) kemudian memfasilitasi proses pelepasan emosi negatif dan ekspresi setelah itu mencari ego state lain yang dapat membantu dan melindungi ego state yang terluka (Barabasz et all, 2011). Proses pelepasan trauma dalam ego state therapy terjadi ketika ego state yang terluka tidak lagi menjadi ego state yang excecutive. Orang yang mengalami trauma melewati rasa takutnya dan secara cepat ego state menjadi normal dan saling memberikan penguatan (Barabasz & Watkins, 2008).
Teknik-Teknik Konseling dalam Ego State Therapy
Ego state therapy menekankah pada analisis komunikasi terhadap fungsi dan peranan ego state terhadap individu. Terdapat dua teknik yang sering digunakan dalam ego state therapy (Emmerson, 2003; Arif, 2011; Watkins & Watkins 1997) diantaranya adalah :
1. Ego state therapy tanpa menggunakan kondisi hipnosis
Adapun teknik yang seringkali digunakan dalam terapi ego state yang tidak memanfaatkan kondisi hipnosis dalam proses terapinya adalah
a. Empty Chair Technique yaitu teknik terapi ego state dengan menggunakan kursi sebagai media dalam memfasilitasi komunikasi antar ego state. Teknik ini sangat cocok bagi individu yang kurang bisa melakukan imajinasi karena dengan menggunakan kursi kosong seseorang akan terbantu dengan lebih mudah untuk mengakses ego state atau perasaannya. Teknik ini merupakan pengembangan dari gestalt therapy, yang membedakannya adalah selama sesi konseling ego state therapy, kursi yang dibutuhkan sekitar 5 sampai 10 kursi. Tujuan dari kursi kosong ini adalah sebagai manifestasi dari ego state dari individu agar dapat berkomunikasi dan mengubah vaded, retro atau conflicted ego state menjadi normal ego state.
b. Conversational Technique yaitu teknik terapi ego state yang dilakukan selayaknya percakapan biasa. Teknik ini sangat membantu dalam sebagai persiapan melakukan resistence bridging yakni teknik untuk mencari akar masalah. Teknik percakapan hampir sama dengan teknik kursi kosong, yang membedakannya adalah disini tidak mencari akar masalah dalam konselingnya akan tetapi fokus pada komunikasi antara ego state yang terluka (vaded) dan mencari ego state pelindung (protector).
2. Ego State Therapy dengan menggunakan kondisi hipnosis
Hipnosis adalah suatu keadaan fokus, tenang, dan relaks sehingga dapat mencerna informasi atau sugesti yang masuk ke dalam pikiran. Korban yang mengalami gangauan stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder) dan gangguan stress akut (Acute Stress Disorder) memiliki kemampuan masuk kondisi hipnosis yang sangat tinggi dibanding dengan orang biasa (Yard, DuHamel, & Galynker, 2008). Pendapat lain dikemukakan oleh Hilgard (Watkins, 1993) yang menjelaskan hipnosis berkaitan dengan fokus yang tinggi dan proses pemisahan diri (disosiative). Melalui hipnosis, konselor dapat secara efektif memanggil dan memisahkan ego state yang terluka serta melakukan proses pelepasan emosi. Kondisi hipnosis merupakan bagian terpenting dalam satu sesi ego state therapy (Emmerson, 2003; Barabasz et all, 2011).
Kondisi hipnosis digunakan untuk mencari akar masalah (root cause) yang menjadi permasalahan klien. Emmerson (2003) menjelaskan dalam kasus trauma, kondisi hipnosis digunakan untuk mencari ego state yang terluka (vaded) kemudian melakukan pelepasan emosi melalui ekspresi terhadap ego state yang negatif (maladaptive ego state) yaitu dengan cara melakukan regresi atau kembali kepada memori masa lalu yang menjadi pemicu trauma kemudian melakukan rekonstruksi yang positif terhadap peristiwa itu (Abramowitz & Lichtenberg, 2010; Watkins & Watkins, 1997).
Barabasz et all (2011) memaparkan langkah-langkah satu sesi ego state therapy dengan menggunakan hipnosis yang bisa dilakukan oleh konselor diantaranya : (1) melakukan induksi secara tidak langsung kepada konseli untuk memasuki kondisi hipnosis. Setelah itu konseli dibantu untuk mengingat kembali memori masa lalu yang menjadi pemicu trauma dengan menggunakan teknik regresi. Emmerson (2003) menjelaskan untuk menghindari konseli yang takut dihipnosis, konselor dapat menggunakan teknik induksi secara tidak langsung (indirect hypnosis) dan teknik resistence bridging sebagai teknik regresi permisif dimana konseli tidak tahu sedang dihipnosis. (2) selanjutnya konselor melakukan proses ekspresi terhadap ego state yang negatif (maladaptive ego state). Ketika proses ekspresi dilakukan konselor membantu konseli untuk melepaskan dan meluapkan seluruh emosi yang tersimpan di dalam pikiran bawah sadar konseli. (3) tahapan akhir adalah melakukan penanganan (reliefe) yakni proses komunikasi antara ego state dimana ego state yang terluka dibantu oleh ego state yang lebih dewasa (nurturance).
Prosedur Konseling Traumatik melalui Ego State Therapy
Konseling merupakan pemberian bantuan yang sangat tepat bagi korban yang mengalami trauma. Weaver et all (2003) menjelaskan pemberian konseling merupakan dukungan utama bagi korban yang mengalami stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder). Konselor yang menggunakan terapi ego state membantu untuk menyembuhkan masalah trauma yang dihadapi oleh konseli. Ketika masalah trauma terselesaikan, gejala-gejala trauma seperti kecemasan, takut yang berlebihan mulai menghilang karena sudah tidak lagi dalam pengendalian ego state yang negatif (Barabasz et all, 2011).
Pengalaman traumatis yang selalu teringat akan ditekan oleh pikiran dan tersimpan di dalam pikiran bawah sadar. Oleh karena itu, ego state yang muncul akibat trauma akan melakukan manipulasi perilaku dengan cara menghindari (avoidance) dari segala hal yang berkaitan dengan kejadian yang menjadi pemicu trauma. Forgash & Knife (2008) menjelaskan manipulasi ego state yang dilakukan untuk menghindari trauma seperti sulit berkonsentrasi, marah yang meledak-ledak, menghindari orang-orang dan segala hal yang mengingatkan kejadian trauma, kaku, merasa terisolasi, distress dan kurang kepercayaan baik pada diri maupun orang lain. Untuk itu, konseling traumatik dengan menggunakan ego state therapy dapat digunakan sebagai intervensi pendekatan untuk menghilangkan gejala-gejala trauma yang dirasakan oleh konseli.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sindrom trauma seperti gangguan stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder) dan gangguan stress akut (Acute Stress Disorder) secara efektif dapat dihilangkan dengan menggunakan ego state therapy (Watkins & Watkins, 1997; Barabasz & Watkins, 2008; Abramowitz & Lichtenberg, 2010; Arif, 2011). Teknik ego state therapy yang secara efektif dapat membantu menangani trauma adalah dengan menggunakan kondisi hipnosis (Emmerson, 2003). Melalui kondisi hipnosis, konselor dapat secara cepat menemukan akar masalah dan ego state yang terluka serta melakukan proses ekspresi dan pelepasan emosi. Adapun gambaran secara detail mengenai manual satu sesi konseling traumatik dengan menggunakan ego state therapy adalah sebagai berikut :
1. Tahapan pertama yang harus dilakukan oleh konselor adalah mengakses ego state (Accessing ego state) dengan menggunakan teknik Resistence Deepening
Dalam kasus traumatik, konselor mengeksplorasi untuk menemukan ego state yang terluka. Konselor membimging konseli untuk memasuki kondisi hipnosis dengan teknik resistence deepening yang tanpa disadari konseli sudah berada dalam kondisi hipnosis. Arif (2011) menjelaskan bahwa teknik resistence deepening diciptakan untuk orang yang cenderung menghindar atau takut dihipnosis. Emmerson (2003) mencipatakan teknik ini dengan memanfaatkan trance atau kondisi hipnosis dengan mata terbuka. Teknik resistence deepening menekankan pada unsur perasaan saat melakukan pengambilan kondisi hipnosis.
Langkah awal yang dapat konselor lakukan dalam melakukan teknik adalah dengan meminta konseli untuk membayangkan situasi yang membuat dia trauma dan menanyakan perasaan yang muncul ketika dalam situasi tersebut. Tahapan pertama ini bertujuan untuk mengakses ego state yang terluka atau kondisi yang membuat konseli trauma. Pengalaman traumatis biasanya membuat konseli mengalami ketakutan yang sangat kuat ketika menghadai situasi yang menjadi pemicu trauma dan saat itulah ego state yang terluka muncul (executive). Misalnya pada kasus trauma naik motor. Dalam mengakses ego state yang terluka, konselor dapat meminta konseli untuk membayangkan konseli duduk di atas motor dan tanyakan bagaimana perasaannya.
Selain itu, konselor memberikana nama kepada ego state yang terluka tersebut. Konselor menanyakan kepada konseli mengenai nama dari ego state ini. Tujuannya adalah supaya konselor lebih mudah berkomunikasi dengan ego state yang merupakan bagian dari konseli. Contohnya pada kasus di atas, konseli merasa ketakutan ketika naik motor dan memberi namanya dengan “si takut”. Setelah itu tanyakan pada ego state apa fungsi “si takut” untuk konseli. Hal ini dilakukan agar konselor mengetahui fungsi ego state bagi konseli. Karena pada dasarnya setiap ego state memliki niat dan fungsi yang baik bagi dirinya (Emmerson, 2003).
Kemudian konselor melakukan cek skala kedalaman dari 1 sampai 10. Angka 10 menandai bahwa emosi sangat terasa dan 1 jika emosi tersebut tidak terasa. Tanyakanlah pada konseli “Ada di angka berapa emosi yang saat ini anda rasakan ?”, bila angkanya rendah misalkan 6, konselor meminta konseli untuk melipatgandakan perasaan itu sampai sembilan atau sepuluh.
2. Tahapan selanjutnya melakukan regresi dengan menggunakan teknik Resistence Bridging
Langkah selanjutnya adalah melakukan regresi yaitu membawa konseli ke dalam memori situasi atau peristiwa pertama kali munculnya ego state yang terluka. Emmerson (2003) menjelaskan bahwa teknik resistence bridge adalah sebuah teknik hipnosis yang membawa konseli untuk berpindah secara langsung setelah selesai melakukan teknik resistence deepening. Penggunaan teknik ini diintegrasikan secara langsung setelah melakukan teknik resistence deepening.
Pada kasus di atas, setelah konselor membimbing konseli merasakan intensitas emosi sampai angka 10, setelah itu gunakan teknik resistence bridging dengan menanyakan konseli sebagai berikut : (a) Menurut anda, perasaan (emosi) ini tua atau muda?; (b) Pada sekitar umur berapa, perasaan ini muncul pertama kali?; (c) Silahkan menjadir umur (sebutkan umur berapa yang muncul dari jawaban b); (d) Peristiwa ini sepertinya terjadi di dalam atau diluar ruangan?; (e) sendiri atau bersama orang lain?; (f) Ceritakan apa yang terjadi disana. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan teknik untuk mengeksplorasi muncul pertama kalinya ego state yang terluka.
3. Tahapan selanjutnya adalah melakukan proses ekspresi terhadap ego state yang negatif (introject) yang memunculkan pengalaman traumatis
Setelah akar masalah yang menjadi pengalaman traumatis bagi konseli diketahui, langkah selanjutnya adalah melakukan proses ekspresi terhadap ego state negatif (introject). Dalam tahapan ini, konseli harus mengekspresikan dan mengungkapkan permasalahan atau emosi yang terpendam. Secara khusus ego state yang mengekpresikan emosi tersebut harus ego state yang terluka. Misalkan Si Marah mengekspresikan kemarahannya pada orang yang menabrak motor konseli sebagai orang yang telah melukai hatinya tanpa ia bisa mengungkapkan dihadapannya secara langsung. Tujuan dari proses ekspresi adalah untuk melepaskan semua emosi yang terpendam dalam diri konseli dan seringkali menjadi masalah yang memicu untuk munculnya gejala-gejala trauma (Barabasz et all, 2011).
4. Tahapan selanjutnya adalah melakukan removal atau pelepasan
Setelah proses mengekspresikan perasaan selesai, dilakukan proses removal atau pelepasan rasa kesal. Konselor harus membantu ego state yang terluka untuk melakukan pelepasan dari ego state negatif yang masih melekat. Ada dua cara yang dapat dilakukan oleh konselor : (a) bila ego state yang negatif (introject) itu adalah lain atau sesuatu, buatlah menjadi sesuatu yang sangat kecil ukurannya dan konselor membantu konseli untuk mengusirnya. Cara mengusinya adalah dengan menanyakan langsung pada konseli. Konselor dapat membantu dengan menanyakan “Apakah mau ditendang atau ditiup?” atau mau diambil pakai tangan lalu dibuang?” (b) bila ego state yang negatif itu adalah orang tua, dilakukan proses pemaafan dengan teknik forgiveness antara konseli dan orang tuanya.
5. Tahapan selanjutnya adalah melakukan proses relief atau penenangan
Setelah melakukan proses pelepasan ego state negatif, langkah selanjutnya adalah mekakukan proses penenangan (relief) yaitu dengan memanggil ego state yang lebih dewasa (mature) dan mau mengasuh (nurturing) ego state yang terluka tadi. Bila ego state yang dwasa dan mau mengasuh tidak muncul sama sekali, maka konselor dapat memanggil ego state introject yang lebih dewasa dan mau mengasuh ego state yang terluka tersebut. Caranya adalah konselor dapat meminta konseli untuk memanggil bagian dari konseli yang lebih dewasa dan matang kemudian beri nama ego state tersebut. Misalkan Si Tenang yang muncul pada konseli, langkah selanjutnya konselor membantu konseli untuk melakukan proses penenangan dengan cara meminta ego state “si tenang” untuk mau mengasuh dan menyayangi ego state “si takut”. Prosesnya adalah dengan cara konseli mengungkapkan secara lisan pada ego state “si takut” dan memfasilitasi komunikasi antara ego state yang dewasa (mature) dan ego state yang terluka. Bila ego state “si takut” sudah merasa tenang, langkah selanjutnya adalag mengubah nama ego state yang terluka (si takut) menjadi nama ego state yang lebih positif, misalkan ego state “berani”.
C. Kesimpulan
Konseling bagi konseli yang mengalami pengalaman traumatis merupakan bantuan utama yang harus segera diberikan. Hal ini dilakukan agar gejala-gejala trauma yang dirasakan menghilang dan konseli dapat menjalani hidup dengan bahagia tanpa diikuti rasa takut yang berlebihan. Ego state therapy merupakan teknik yang simple dan luar biasa dapat secara efektif menangani kasus trauma. Konseling traumatik menggunakan ego state therapy adalah model konseling yang menyembuhkan pengalaman traumatis seseorang melalui proses ekspresi, pelepasan dan penenangan ego state yang terluka. Hal ini dilakukan dengan cara mencari ego state yang lebih dewasa (mature) dan mau mengasuh (nurturing) ego state yang terluka. Untuk itu, konseling traumatik dengan menggunakan teknik ego state therapy dapat menjadi solusi dalam menangani kasus-kasus trauma.
DAFTAR PUSTAKA
Abramowitz, E., & Litchtenberg, P. (2010). A New Hypnotic Technique For Treating Combat Related Post Traumatic Stress Disorder : A Prospective Open Study. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, 58, 316–328.
Arif, Antonius. (2011). Ego State Therapy. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Barabasz, Arreed, Marianne Barabasz & Jhon G. Watkins. (2011). Single-Session Manualized Ego State Therapy For Combat Stress Injury, Post Traumatic Stress Disorder, Acuted Stress Disorder, Part 1 : The Theory. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, 59, 379-391.
Carll, Elizabeth K. (2007). Trauma Psychology : Issues In Violence, Disaster, Health, and Illness. United Kingdom : Greenwood Publishing Group, Inc.
Emmerson, Gordon. (2003). Ego State Therapy. Carmethen, United Kingdom : Crown House
Flanagan, Jhon-Sommers & Rika-Sommers Flanagan. (2004). Counselling and Psychotherapy Theory In Context and Practice. New Jersey : Jhon Wiley and Son, Inc.
Forgash, Carol & Jim Knipe. (2008). Integrating EMDR and Ego State Therapy for Client with Trauma Disorder. In Carol L. Forgash and Margaret Copeley, Healing Trauma with EMDR and Ego State Therpay. (pp. 91-120). New York, NY : Springer Publishing.
Hartman, David & Diane Zimberoff. (2003). Ego State In Heart-Centered Therapies. Journal of Heart-Centered Therapies, Vol. 6, No. 1, pp. 47-92
Hawkins, Peter J. (2000). Hypnosis in Counselling and Psychotherapy. In Stephen Palmer, Introduction to Counselling and Psychotherapy : Essential Guide. London : Sage Publication Ltd
Herman, J. L. (1992). Trauma and recovery: The aftermath of violence—From domestic abuse to political terror. New York: Basic Books.
Hull, A. M. (2002). Neuroimaging Findings In Post Traumatic Stress Disorder. British Journal of Psychiatry, 181,102–110.
Litz, B. T. (1992). Emotional Numbering In Combat Related Post Traumatic Stress Disorder: A Critical Review and Reformation. Clinical Psychology Review, 12,417–432.
Lynn, Steve Jay & Judith W. Rhue. (1991). Theory of Hypnosis : Current Models and Perspective. New York : The Guilford Press
Neukrug, Ed. (2012). The World of Counselor : An Introduction to The Counseling Profession. Belmont, CA : Brooks/Cole
Okawa, Judy B. & Ronda B Hauss. (2007). The Trauma of Politically Motivated Torture. In Elizabeth K. Carll, Trauma Psychology : Issues In Violence, Disaster, Health, and Illness. (pp. 33-60) United Kingdom : Greenwood Publishing Group, Inc.
Philips, Maggie. (2001). Healing The Divided Self. In Raymond J. Corsini, Handbook of Innovative Therapy. (pp. 279-292). New York, NY : Jhon Wiley & Son, Inc.
Philips, Maggie. (2008). Combinging Hypnosis with EMDR and Ego State Therapy for Ego Strengthening, In Carol L. Forgash and Margaret Copeley, Healing Trauma with EMDR and Ego State Therpay. (pp. 91-120). New York, NY : Springer Publishing
Van der Kolk, B. (1994). Psychobiology of Post Traumatic Stress Disorder. In J. Panksepp (Ed.), Text Book of Biological Psychiatry (pp. 319–344). New York, NY : Wiley-Liss
Watkins, Jhon G. & Watkins, Helen H. (1997). Ego State : Theory and Therapy. New York, NY : Norton & Company
Watkins, Jhon G. & Barabasz, Arreed. (2005). Hypnotherapeutic Techniques 2E. New York, NY : Routledge
Watkins, Jhon G. & Barabasz, Arreed. (2008). Advanced Hypnotherapy : Hypnodynamic Technique. New York, NY : Routledge
Watkins, Helen Huth. (1993). Ego State Therapy : Overview. American Journal of Clinical Hypnosis. Vol. 35, No. 4, pp 232–240.
Weaver, Andrew J. et all. (2003). Counseling Survivors of Traumatic Events : A Handbook for Pastoral and Other Helping Professional. Nashville : Abingdon Press
Yard, S., DuHamel, K., & Galynker, I. (2008). Hypnotizability As A Potential Risk Factor For Post Traumatic Stress : A Review of Quantitative Studies. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, 56, 334–356
(Traumatic Counseling Using Ego State Therapy)
Abstract. Traumatic experience make people not happy and fears in life. Because of that needs traumatic counseling to remove and healing trauma symptoms. Ego state therapy is a powerful and brief therapy based on the premise that personality is composed of separate parts, rather than being a homogeneous whole. Ego state therapy could effectively for handling trauma and fears. Based on study, trauma memories are encoded in the subconscious mind. Traumatic counseling using ego state therapy technique purpose for remove trauma symptom. Because of trauma memories encoded in the subconscious mind, then single-session ego state therapy would effectively using hypnosis condition in therapy. Process of ego state therapy using hypnosis consist of accessing vaded ego state, doing regression for knowing the root cause of trigger trauma. Then, doing process of expression, removal and reliefe of vaded ego state which us
Key Word : Traumatic, Counseling, Ego state therapy
Abstrak. Pengalaman traumatis membuat seseorang menjadi tidak bahagia dan sering diliputi rasa takut yang berlebihan. Untuk itu, diperlukan layanan konseling traumatic untuk menghilangkan gejala-gejala trauma yang dialami oleh konseli. Ego state therapy merupakan teknik terapi singkat yang berdasar pada premis kepribadian yang terdiri dari bagian-bagian (parts) terpisah. Ego state therapy dapat secara efektif menangani kasus trauma dan rasa takut yang berlebihan Berdasarkan hasil studi menjelaskan memori trauma tersimpan didalam memori pikiran bawah sadar. Untuk itu, konseling traumatik dengan menggunakan teknik ego state therapy bertujuan menghilangkan gejala-gejala trauma. Karena memori trauma tersimpan dalam pikiran bawah sadar, maka satu sesi ego state therapy akan lebih efektif dengan menggunakan kondisi hipnosis dalam proses terapinya. Proses ego state therapy dengan menggunakan kondisi hipnosis terdiri dari mengakses ego state yang terluka, melakukan regresi untuk mengetahui akar masalah pemicu trauma. Setelah itu, melakukan proses ekpresi, pelepasan dan penenangan ego state yang terluka dengan mencari ego state yang lebih dewasa dan mau mengasuh.
Kata Kunci : Trauma, Konseling, Ego state therapy
A. Pendahuluan
Pengalaman traumatis merupakan pengalaman menyakitkan yang dapat membuat seseorang tidak bahagia dalam hidupnya. Orang yang mengalami trauma ceerung melakukan penghindaran, cemas yang tinggi, depresi, selalu teringat kejadian yang menyakitkan, rasa waspada yang berlebihan dan mati rasa emosi (Litz, 1992). Pengalaman traumatis terjadi ketika seseorang mengalami atau menyaksikan suatu ancaman yang mengancam dirinya dan meresponnya dengan rasa takut dan rasa tidak berdaya (Forgash & Knipe, 2008; Carll, 2007). Peristiwa atau kejadian yang menekan diluar pengalaman manusia pada umunya seperti perkosaan, bencana alam, kecelakaan, kekerasan seksual, perang atau penyiksaan (Barabaz et al, 2011; Carll, 2007). Pengalaman traumatis yang dialaminya seolah-olah menjadi katalisator mengingat kembali pengalaman yang menyakitkan yang dialaminya.
Efek lain yang dirasakan ketika mengalami trauma adalah dengan tidak mampunya seseorang dalam mengontrol emosi. Penelitian menunjukkan ketika seseorang mengalami trauma, ada bagian dari otak yang mengatur emosi menjadi semakin aktif dan tidak terkendali (Hull, 2002; Van Der Kolk, 2007; Barabaz et al, 2011). Untuk itu, orang yang mengalami pengalaman traumatis harus segera mendapatkan pemberian bantuan secara psikologis untuk menghilangkan gangguan-gangguan yang dirasakan. Carll (2007) menambahkan peristiwa trauma dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder / PTSD) meliputi perasaan takut yang berlebihan, tidak berdaya dan cemas. Gejala utama bagi orang yang mengalami PTSD adalah seolah-olah orang tersebut mengalami dan merasakan kembali pengalaman yang membuat trauma (seperti mimpi buruk, pikiran yang terus menganggu, dan selalu teringat kejadian trauma); melakukan penghindaran terhadap semua hal yang mengingatkannya terhadap kejadian (mengindari pikiran, orang, aktivitas dan segala hal yang berkaitan dengan kejadian trauma); sulit untuk konsentrasi, sulit tidur dan amarah yang meledak-ledak (Herman, 1992; Forgash & Knipe, 2008; Carll, 2007).
Trauma tidak hanya terjadi dalam setting masyarakat, karena saat ini trauma juga dapat terjadi dalam setting pendidikan khususnya sekolah. Fakta yang menarik adalah rata-rata trauma dialami oleh siswa yang sedang belajar di sekolah. Seperti yang dilansir www.metrotvnews.com (Sabtu, 21 April 2012) tentang seorang siswa SD di Bulukumba yang trauma dan tidak mau ke sekolah karena diinjak oleh guru. Berita lain dimuat oleh www.surabaya.detik.com (Rabu, 4 April 2012) yang memuat tentang siswa SD di Mojokerto yang tidak berani sekolah karena trauma dipukul guru agama. Fakta yang menarik ditemukan bahwa kebanyakan korban trauma adalah siswa dan yang menjadi pelakunya adalah guru sebagai tenaga pendidik. Okawa & Hauss (2007) menjelaskan bahwa kekerasan (abuse) yang dialami akan menyebabkan trauma yang ditandai dengan kecemasan yang tinggi, menghindari situasi sosial, emosi yang labil dan depresi.
Untuk itu, konseli yang mengalami trauma perlu mendapatkan proses bantuan berupa konseling traumatik agar hidupnya bahagia dan terbebas dari ketakutan dan kecemasan yang menghantuinya. Makalah ini menyajikan sebuah pendekatan dan teknik terapi singkat ego state therapy yang secara efektif dapat menyembuhkan orang yang mengalami trauma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ego state therapy secara efektif dapat digunakan dalam membantu masalah seperti post traumatic stress disorder (PTSD), depresi, multiple personality disorder, adiksi, manajemen rasa marah, trauma, panic attack, obsessive compulsive disorder dan kecemasan (Barabaz & Watkins, 2008; Watkin & Watkins, 1997; Emmerson; 2007; Philips, 2008).
B. Pembahasan
Untuk memahami lebih jauh bagaimana gambaran konseling traumatik dengan menggunakan ego state therapy berikut ini akan dijelaskan mengenai definisi ego etate therapy, dasar-dasar ego state therapy, kondisi alami ego state, tujuan dari ego state therapy, teknik-teknik terapi dalam ego state dan prosedur praktek konseling traumatik melalui ego state therapy.
Definisi Ego state therapy
Ego state therapy merupakan teknik terapi singkat yang berdasar pada premis kepribadian yang terdiri dari bagian-bagian (parts) terpisah dan ini disebut ego state (Emmerson, 2003). Ego state seringkali disebut bagian kecil dari kepribadian seseorang. J.G. Watkins & H.H Watkins (1997) mendefinisikan ego state therapy sebagai sebuah terapi yang menggunakan pendekatan individu, keluarga, dan terapi kelompok dalam mengakses dan berhubungan dengan ego state yang bertujuan untuk melepaskan dan mengatasi konflik ego state yang terjadi.
Setiap kali kita berbicara “saya seperti ini orangnya” atau “ada bagian saya yang membuat saya tidak tenang” maka itulah ego state. Sebuah ego state merupakan satu bagian dari sekumpulan kelompok yang mempunyai keadaan atau kondisi emosi yang setara, yang dibedakan berdasarkan tugas khusus, perasaan (mood), dan fungsi mental, dimana kesadaran diasumsikan sebagai identitas dari orang tersebut (Hartman & Zimberoff, 2003, Emmerson, 2003). Kumpulan dari ego state membentuk kepribadian utuh dari seseorang dan jumlahnya tidak dapat dihitung akan tetapi dalam satu minggu ego state seseorang yang muncul berjumlah sekitar 5 hingga 15 ego state (Emmerson, 2003). Ego state mulai berkembang ketika masa kanak-kanak dimana otak mulai berkembang. Semua ego state berkembang untuk memuaskan beberapa kebutuhan (Arif, 2011). Awal munculnya ego state diawali dengan penanaman nilai (imprint) yang diberikan oleh orang tua kepada anak serta penguatan berupa penghargaan secara verbal sehingga ego state semakin berkembang dan menjadi ego state yang matang (Watkins & Watkins, 1997; Emmerson 2007).
Setiap ego state memiliki potensi untuk konflik dan melakukan sabotase diri. Fenomena ini dapat kita lihat pada seseorang yang mengalami trauma. Misalkan korban trauma akibat kekerasan seksual. Ada bagian diri yang berkata “saya ingin terbebas dari rasa bersalah dan menjalani hidup lebih baik”. Tetapi bagian diri yang lain merasakan bahwa “saya sudah tidak suci lagi. Saya berdosa dan jijik”. Disini terjadi konflik ego state dimana ego state yang merasa bersalah tumbuh dan berkembang diakibatkan dari perasaan luka yang dalam karena trauma. Van der Kolk (1994) menjelaskan bahwa ketika seseorang mengalami trauma, memori yang berkaitan dengan peristiwa trauma akan menempel di dalam otak pada bagian non verbal, tidak sadar dan sangat sulit untuk diakses. Ego state yang tumbuh akibat pengalaman traumatis kadangkala melakukan manipulasi dengan cara menekan memori menyakitkan tersebut agar tidak muncul kembali (Hartman & Zimberoff, 2003).
Strategi konseling dengan menggunakan ego state therapy adalah dengan cara menemukan ego state yang terluka (vaded) akibat trauma kemudian mencari ego state lain yang dapat menenangkan atau membantunya sehingga menjadi lebih produktif dan saling melindungi (Watkins & Watkins, 1997; Emmerson, 2003; Forgas & Knipe, 2008).
Dasar-Dasar Ego state therapy
Kepribadian bukan merupakan satu kesatuan meskipin kelihatannya sama akan tetapi kepribadian terpisah, bermacam-macam dan memiliki tujuan yang berbeda. Istilah ego state memang bukanlah yang pertama kali karena istilah ego pertama kali muncul dan diperkenalkan oleh pakar psikoanalisis yaitu Sigmund Freud. Konsep psikoanalisis menjelaskan bahwa dinamika kepribadian individu terdiri dari tiga komponen yakni id (dorongan biologis), ego (dorongan sosial), super ego (dorongan moral). Tetapi konsep ego state berbeda dengan ego dan super ego yang dalam psikoanalisis. Orang yang pertama kali memperkenalkan istilah ego state adalah Paul Federn, seorang psikoterapis yang belajar psikoanalis langsung pada Sigmund Freud (Barabasz et all, 2011). Federn berpendapat bahwa kepribadian seseorang terdiri dari bagian-bagian (parts) dan disebut ego state. Ketika individu melakukan dan merasakannya, maka ini disebut dengan ego identity (Arif, 2011).
Eloardo Weiss (Barabasz et all, 2011) yang merupakan murid dari Federn mendalami konsep ego state dalam kepribadian. Tetapi baik Federn maupun Weiss tidak menggunakan konsep ego state dalam proses terapinya dan masih menggunakan psikoanalisis dalam melakukan konseling dan terapi. Seorang psikolog berkebangsaan amerika yang bernama Jhon G. Watkins yang belajar psikoanalisis dari Weiss mengembangkan konsep ego state menjadi lebih mudah dipahami. Watkins menggunakan konsep ego state dalam terapi dan melakukan eksperimen dengan menggunakan kondisi hipnosis, berbicara langsung pada bagian kepribadian (subpersonality) yang bermasalah dan berhasil membantu korban-korban trauma perang dunia kedua. Pada tahun 1970, J.G. Watkins dan istrinya H. H. Watkins menerbitkan istilah ego state therapy di beberapa makalah, jurnal dan menulis buku Ego State : Theory and Therapy pada tahun 1997.
Konsep ego state juga digunakan dalam pendekatan Transactional Analysis Therapy akan tetapi istilah ego state yang dipaparkan Eric Berne (1961) berbeda dengan ego state yang dipaparkan oleh J. G Watkins dan H.H Watkins. Ego state dalam transactional analysis merupakan konsep komunikasi interaksional bagian diri yang terdiri dari tiga yaitu ego state anak, ego state dewasa dan ego state orang tua. Sementara dalam konsep ego state therapy, jumlah ego state tidak terhitung karena ego state merupakan bagian dari kepribadian yang memiliki kondisi perasaan yang setara, logika, keterampilan dan terus berkembang (Hartman & Zimberoff, 2003).
Dalam proses terapinya, J.G. Watkins seringkali menggunakan kondisi hipnosis sehingga memungkinkan untuk membagi ego state yang terluka dengan ego state yang lainnya. Kondisi hipnosis sangat direkomendasikan dalam ego state therapy (Barabasz & Watkins, 2008; Barabasz et all, 2011; Emmerson, 2003; Watkins & Watkins, 1997).
Kondisi Alami Ego state
Dalam melakukan proses konseling dengan menggunakan teknik ego state therapy diperlukan pemahaman mengenai kondisi alami sehingga memudahkan kita dalam melakukan intervensi. Bahkan Helen H. Watkins (1993) mengingatkan untuk hati-hati dalam melakukan persuasi dengan ego state dalam kondisi hipnosis karena sugesti yang diberikan dapat membuat ego state baru yang bersipat merusak dalam diri individu. Untuk itu, Emmerson (2003) menjelaskan ada beberapa kondisi alami ego state yang harus dipahami oleh seorang konselor :
1. Ego state tidak dapat dihilangkan atau disingkirkan, tetapi dapat kita ganti tugasnya
2. Normalnya, ego state dapat mengekspresikan berapa tua umur perasaan tersebut
3. Ego state dapat memilih untuk bersembunyi atau menjadi tidak aktif dan mereka dapat berubah, mereka biasanya memilih nama baru, misalkan dari cemas menjadi percaya diri
4. Ego state pastilah bagian dari orang tersebut
5. Ego state mempunyai identitas, jadi ketika ego state menjadi executive (muncul secara sadar), dia berbicara seperti orang pertama dan membicarakan state yang lain sebagai sesuatu yang lain
6. Ego state mempunyai perasaan dan mereka tidak suka dengan komentar kasar terhadap mereka, baik secara langsung atau melalui state yang lain. Bila itu terjadi, mereka menolak untuk berbicara dan bekerjasama.
7. Setiap orang pasti mempunyai ego state walau jumlah ego state dan bentuknya bisa berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain
Kondisi alami ego state yang dipaparkan di atas merupakan bagian penting yang harus diperhatikan oleh konselor dalam melakukan konseling ego state therapy. Arif (2011) menjelaskan bahwa kondisi alami ego state ini adalah cara pandang yang harus dimiliki seorang konselor yang menggunakan ego state therapy dalam membantu menangani permasalahan konseli. Pada akhirnya, dengan memahami kondisi alami ego state akan membuat sesi konseling menjadi efektif dan efisien.
Selain memahami kondisi alami ego state yang dapat diaplikasi dalam konseling, konselor juga harus memahami empat kondisi ego state berdasarkan pada fungsinya. Emmerson (2003) menjelaskan ada empat kondisi ego state dalam diri kita :
1. Normal ego state yaitu ego state yang berperan positif. Tujuan inti dari ego state therapy adalah untuk membantu semua state berfungsi menjadi normal kembali.
2. Vaded ego state yaitu ego state yang bersipat menganggu sehingga membuat orang tersebut sering melakukan tindakan yang tidak ingin dilakukan. Vaded ego state muncul karena trauma dan penolakan di masa lalu dan tidak terselesaikan. Bila vaded ego state ini menjadi executive akan membuat perasaan orang tersebut menjadi buruk bahkan menjadi di luar kendali dan tidak dapat melakukan sesuatu yang diinginkannya.
3. Retro ego state yaitu ego state yang muncul dan berkembang di masa lalu, ego state ini tercipta sejak kita masih kecil dan dulu state ini berguna atau digunakan tetapi sekarang sudah tidak berguna lagi. Tetapi kadang suka muncul dan menganggu atau menguntukan seseorang.
4. Conflicted ego state yaitu beberapa ego state yang saling berkonflik dan kadang menjadi masalah bagi orang tersebut. Sebenarnya, conflicted ego state mempunyai maksud positif tetapi kadang mereka bertengkar atau berbeda pendapat secara internal. Contoh : “saya ingin lepas dari rasa takur naik motor setelah kecelakaan tapi bila naik, saya khawatir terjadi kecelakaan lagi”
Tujuan dari Ego State Therapy
Tujuan inti dari ego state therapy adalah membuat ego state yang vaded, retro atau konflik menjadi ego state normal sehingga individu terbebas dari sabotase diri dan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya (Watkins & Watkins, 1997; Barabasz & Watkins, 2008). Secara garis besar, Emmerson (2003) merumuskan tujuan ego state therapy meliputi :
1. Mengalikasikan dimana adanya kesakitan, trauma, kemarahan atau frustrasi dalam ego state dan memfasilitasi ekspresi, melepaskan emosi negatif, memberikan rasa nyaman serta memberdayakan diri
2. Memfasilitasi fungsi komunikasi di antara ego state
3. Menolong klien mengenal ego state mereka sehingga klien dapat memetik kentungan yang lebih
4. Mengatasi konflik diri atau konflik ego state
Bagi korban yang mengalami trauma, konseling dengan menggunakan ego state therapy bertujuan untuk menemukan ego state yang terluka (vaded) kemudian memfasilitasi proses pelepasan emosi negatif dan ekspresi setelah itu mencari ego state lain yang dapat membantu dan melindungi ego state yang terluka (Barabasz et all, 2011). Proses pelepasan trauma dalam ego state therapy terjadi ketika ego state yang terluka tidak lagi menjadi ego state yang excecutive. Orang yang mengalami trauma melewati rasa takutnya dan secara cepat ego state menjadi normal dan saling memberikan penguatan (Barabasz & Watkins, 2008).
Teknik-Teknik Konseling dalam Ego State Therapy
Ego state therapy menekankah pada analisis komunikasi terhadap fungsi dan peranan ego state terhadap individu. Terdapat dua teknik yang sering digunakan dalam ego state therapy (Emmerson, 2003; Arif, 2011; Watkins & Watkins 1997) diantaranya adalah :
1. Ego state therapy tanpa menggunakan kondisi hipnosis
Adapun teknik yang seringkali digunakan dalam terapi ego state yang tidak memanfaatkan kondisi hipnosis dalam proses terapinya adalah
a. Empty Chair Technique yaitu teknik terapi ego state dengan menggunakan kursi sebagai media dalam memfasilitasi komunikasi antar ego state. Teknik ini sangat cocok bagi individu yang kurang bisa melakukan imajinasi karena dengan menggunakan kursi kosong seseorang akan terbantu dengan lebih mudah untuk mengakses ego state atau perasaannya. Teknik ini merupakan pengembangan dari gestalt therapy, yang membedakannya adalah selama sesi konseling ego state therapy, kursi yang dibutuhkan sekitar 5 sampai 10 kursi. Tujuan dari kursi kosong ini adalah sebagai manifestasi dari ego state dari individu agar dapat berkomunikasi dan mengubah vaded, retro atau conflicted ego state menjadi normal ego state.
b. Conversational Technique yaitu teknik terapi ego state yang dilakukan selayaknya percakapan biasa. Teknik ini sangat membantu dalam sebagai persiapan melakukan resistence bridging yakni teknik untuk mencari akar masalah. Teknik percakapan hampir sama dengan teknik kursi kosong, yang membedakannya adalah disini tidak mencari akar masalah dalam konselingnya akan tetapi fokus pada komunikasi antara ego state yang terluka (vaded) dan mencari ego state pelindung (protector).
2. Ego State Therapy dengan menggunakan kondisi hipnosis
Hipnosis adalah suatu keadaan fokus, tenang, dan relaks sehingga dapat mencerna informasi atau sugesti yang masuk ke dalam pikiran. Korban yang mengalami gangauan stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder) dan gangguan stress akut (Acute Stress Disorder) memiliki kemampuan masuk kondisi hipnosis yang sangat tinggi dibanding dengan orang biasa (Yard, DuHamel, & Galynker, 2008). Pendapat lain dikemukakan oleh Hilgard (Watkins, 1993) yang menjelaskan hipnosis berkaitan dengan fokus yang tinggi dan proses pemisahan diri (disosiative). Melalui hipnosis, konselor dapat secara efektif memanggil dan memisahkan ego state yang terluka serta melakukan proses pelepasan emosi. Kondisi hipnosis merupakan bagian terpenting dalam satu sesi ego state therapy (Emmerson, 2003; Barabasz et all, 2011).
Kondisi hipnosis digunakan untuk mencari akar masalah (root cause) yang menjadi permasalahan klien. Emmerson (2003) menjelaskan dalam kasus trauma, kondisi hipnosis digunakan untuk mencari ego state yang terluka (vaded) kemudian melakukan pelepasan emosi melalui ekspresi terhadap ego state yang negatif (maladaptive ego state) yaitu dengan cara melakukan regresi atau kembali kepada memori masa lalu yang menjadi pemicu trauma kemudian melakukan rekonstruksi yang positif terhadap peristiwa itu (Abramowitz & Lichtenberg, 2010; Watkins & Watkins, 1997).
Barabasz et all (2011) memaparkan langkah-langkah satu sesi ego state therapy dengan menggunakan hipnosis yang bisa dilakukan oleh konselor diantaranya : (1) melakukan induksi secara tidak langsung kepada konseli untuk memasuki kondisi hipnosis. Setelah itu konseli dibantu untuk mengingat kembali memori masa lalu yang menjadi pemicu trauma dengan menggunakan teknik regresi. Emmerson (2003) menjelaskan untuk menghindari konseli yang takut dihipnosis, konselor dapat menggunakan teknik induksi secara tidak langsung (indirect hypnosis) dan teknik resistence bridging sebagai teknik regresi permisif dimana konseli tidak tahu sedang dihipnosis. (2) selanjutnya konselor melakukan proses ekspresi terhadap ego state yang negatif (maladaptive ego state). Ketika proses ekspresi dilakukan konselor membantu konseli untuk melepaskan dan meluapkan seluruh emosi yang tersimpan di dalam pikiran bawah sadar konseli. (3) tahapan akhir adalah melakukan penanganan (reliefe) yakni proses komunikasi antara ego state dimana ego state yang terluka dibantu oleh ego state yang lebih dewasa (nurturance).
Prosedur Konseling Traumatik melalui Ego State Therapy
Konseling merupakan pemberian bantuan yang sangat tepat bagi korban yang mengalami trauma. Weaver et all (2003) menjelaskan pemberian konseling merupakan dukungan utama bagi korban yang mengalami stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder). Konselor yang menggunakan terapi ego state membantu untuk menyembuhkan masalah trauma yang dihadapi oleh konseli. Ketika masalah trauma terselesaikan, gejala-gejala trauma seperti kecemasan, takut yang berlebihan mulai menghilang karena sudah tidak lagi dalam pengendalian ego state yang negatif (Barabasz et all, 2011).
Pengalaman traumatis yang selalu teringat akan ditekan oleh pikiran dan tersimpan di dalam pikiran bawah sadar. Oleh karena itu, ego state yang muncul akibat trauma akan melakukan manipulasi perilaku dengan cara menghindari (avoidance) dari segala hal yang berkaitan dengan kejadian yang menjadi pemicu trauma. Forgash & Knife (2008) menjelaskan manipulasi ego state yang dilakukan untuk menghindari trauma seperti sulit berkonsentrasi, marah yang meledak-ledak, menghindari orang-orang dan segala hal yang mengingatkan kejadian trauma, kaku, merasa terisolasi, distress dan kurang kepercayaan baik pada diri maupun orang lain. Untuk itu, konseling traumatik dengan menggunakan ego state therapy dapat digunakan sebagai intervensi pendekatan untuk menghilangkan gejala-gejala trauma yang dirasakan oleh konseli.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sindrom trauma seperti gangguan stress pasca trauma (Post Traumatic Stress Disorder) dan gangguan stress akut (Acute Stress Disorder) secara efektif dapat dihilangkan dengan menggunakan ego state therapy (Watkins & Watkins, 1997; Barabasz & Watkins, 2008; Abramowitz & Lichtenberg, 2010; Arif, 2011). Teknik ego state therapy yang secara efektif dapat membantu menangani trauma adalah dengan menggunakan kondisi hipnosis (Emmerson, 2003). Melalui kondisi hipnosis, konselor dapat secara cepat menemukan akar masalah dan ego state yang terluka serta melakukan proses ekspresi dan pelepasan emosi. Adapun gambaran secara detail mengenai manual satu sesi konseling traumatik dengan menggunakan ego state therapy adalah sebagai berikut :
1. Tahapan pertama yang harus dilakukan oleh konselor adalah mengakses ego state (Accessing ego state) dengan menggunakan teknik Resistence Deepening
Dalam kasus traumatik, konselor mengeksplorasi untuk menemukan ego state yang terluka. Konselor membimging konseli untuk memasuki kondisi hipnosis dengan teknik resistence deepening yang tanpa disadari konseli sudah berada dalam kondisi hipnosis. Arif (2011) menjelaskan bahwa teknik resistence deepening diciptakan untuk orang yang cenderung menghindar atau takut dihipnosis. Emmerson (2003) mencipatakan teknik ini dengan memanfaatkan trance atau kondisi hipnosis dengan mata terbuka. Teknik resistence deepening menekankan pada unsur perasaan saat melakukan pengambilan kondisi hipnosis.
Langkah awal yang dapat konselor lakukan dalam melakukan teknik adalah dengan meminta konseli untuk membayangkan situasi yang membuat dia trauma dan menanyakan perasaan yang muncul ketika dalam situasi tersebut. Tahapan pertama ini bertujuan untuk mengakses ego state yang terluka atau kondisi yang membuat konseli trauma. Pengalaman traumatis biasanya membuat konseli mengalami ketakutan yang sangat kuat ketika menghadai situasi yang menjadi pemicu trauma dan saat itulah ego state yang terluka muncul (executive). Misalnya pada kasus trauma naik motor. Dalam mengakses ego state yang terluka, konselor dapat meminta konseli untuk membayangkan konseli duduk di atas motor dan tanyakan bagaimana perasaannya.
Selain itu, konselor memberikana nama kepada ego state yang terluka tersebut. Konselor menanyakan kepada konseli mengenai nama dari ego state ini. Tujuannya adalah supaya konselor lebih mudah berkomunikasi dengan ego state yang merupakan bagian dari konseli. Contohnya pada kasus di atas, konseli merasa ketakutan ketika naik motor dan memberi namanya dengan “si takut”. Setelah itu tanyakan pada ego state apa fungsi “si takut” untuk konseli. Hal ini dilakukan agar konselor mengetahui fungsi ego state bagi konseli. Karena pada dasarnya setiap ego state memliki niat dan fungsi yang baik bagi dirinya (Emmerson, 2003).
Kemudian konselor melakukan cek skala kedalaman dari 1 sampai 10. Angka 10 menandai bahwa emosi sangat terasa dan 1 jika emosi tersebut tidak terasa. Tanyakanlah pada konseli “Ada di angka berapa emosi yang saat ini anda rasakan ?”, bila angkanya rendah misalkan 6, konselor meminta konseli untuk melipatgandakan perasaan itu sampai sembilan atau sepuluh.
2. Tahapan selanjutnya melakukan regresi dengan menggunakan teknik Resistence Bridging
Langkah selanjutnya adalah melakukan regresi yaitu membawa konseli ke dalam memori situasi atau peristiwa pertama kali munculnya ego state yang terluka. Emmerson (2003) menjelaskan bahwa teknik resistence bridge adalah sebuah teknik hipnosis yang membawa konseli untuk berpindah secara langsung setelah selesai melakukan teknik resistence deepening. Penggunaan teknik ini diintegrasikan secara langsung setelah melakukan teknik resistence deepening.
Pada kasus di atas, setelah konselor membimbing konseli merasakan intensitas emosi sampai angka 10, setelah itu gunakan teknik resistence bridging dengan menanyakan konseli sebagai berikut : (a) Menurut anda, perasaan (emosi) ini tua atau muda?; (b) Pada sekitar umur berapa, perasaan ini muncul pertama kali?; (c) Silahkan menjadir umur (sebutkan umur berapa yang muncul dari jawaban b); (d) Peristiwa ini sepertinya terjadi di dalam atau diluar ruangan?; (e) sendiri atau bersama orang lain?; (f) Ceritakan apa yang terjadi disana. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan teknik untuk mengeksplorasi muncul pertama kalinya ego state yang terluka.
3. Tahapan selanjutnya adalah melakukan proses ekspresi terhadap ego state yang negatif (introject) yang memunculkan pengalaman traumatis
Setelah akar masalah yang menjadi pengalaman traumatis bagi konseli diketahui, langkah selanjutnya adalah melakukan proses ekspresi terhadap ego state negatif (introject). Dalam tahapan ini, konseli harus mengekspresikan dan mengungkapkan permasalahan atau emosi yang terpendam. Secara khusus ego state yang mengekpresikan emosi tersebut harus ego state yang terluka. Misalkan Si Marah mengekspresikan kemarahannya pada orang yang menabrak motor konseli sebagai orang yang telah melukai hatinya tanpa ia bisa mengungkapkan dihadapannya secara langsung. Tujuan dari proses ekspresi adalah untuk melepaskan semua emosi yang terpendam dalam diri konseli dan seringkali menjadi masalah yang memicu untuk munculnya gejala-gejala trauma (Barabasz et all, 2011).
4. Tahapan selanjutnya adalah melakukan removal atau pelepasan
Setelah proses mengekspresikan perasaan selesai, dilakukan proses removal atau pelepasan rasa kesal. Konselor harus membantu ego state yang terluka untuk melakukan pelepasan dari ego state negatif yang masih melekat. Ada dua cara yang dapat dilakukan oleh konselor : (a) bila ego state yang negatif (introject) itu adalah lain atau sesuatu, buatlah menjadi sesuatu yang sangat kecil ukurannya dan konselor membantu konseli untuk mengusirnya. Cara mengusinya adalah dengan menanyakan langsung pada konseli. Konselor dapat membantu dengan menanyakan “Apakah mau ditendang atau ditiup?” atau mau diambil pakai tangan lalu dibuang?” (b) bila ego state yang negatif itu adalah orang tua, dilakukan proses pemaafan dengan teknik forgiveness antara konseli dan orang tuanya.
5. Tahapan selanjutnya adalah melakukan proses relief atau penenangan
Setelah melakukan proses pelepasan ego state negatif, langkah selanjutnya adalah mekakukan proses penenangan (relief) yaitu dengan memanggil ego state yang lebih dewasa (mature) dan mau mengasuh (nurturing) ego state yang terluka tadi. Bila ego state yang dwasa dan mau mengasuh tidak muncul sama sekali, maka konselor dapat memanggil ego state introject yang lebih dewasa dan mau mengasuh ego state yang terluka tersebut. Caranya adalah konselor dapat meminta konseli untuk memanggil bagian dari konseli yang lebih dewasa dan matang kemudian beri nama ego state tersebut. Misalkan Si Tenang yang muncul pada konseli, langkah selanjutnya konselor membantu konseli untuk melakukan proses penenangan dengan cara meminta ego state “si tenang” untuk mau mengasuh dan menyayangi ego state “si takut”. Prosesnya adalah dengan cara konseli mengungkapkan secara lisan pada ego state “si takut” dan memfasilitasi komunikasi antara ego state yang dewasa (mature) dan ego state yang terluka. Bila ego state “si takut” sudah merasa tenang, langkah selanjutnya adalag mengubah nama ego state yang terluka (si takut) menjadi nama ego state yang lebih positif, misalkan ego state “berani”.
C. Kesimpulan
Konseling bagi konseli yang mengalami pengalaman traumatis merupakan bantuan utama yang harus segera diberikan. Hal ini dilakukan agar gejala-gejala trauma yang dirasakan menghilang dan konseli dapat menjalani hidup dengan bahagia tanpa diikuti rasa takut yang berlebihan. Ego state therapy merupakan teknik yang simple dan luar biasa dapat secara efektif menangani kasus trauma. Konseling traumatik menggunakan ego state therapy adalah model konseling yang menyembuhkan pengalaman traumatis seseorang melalui proses ekspresi, pelepasan dan penenangan ego state yang terluka. Hal ini dilakukan dengan cara mencari ego state yang lebih dewasa (mature) dan mau mengasuh (nurturing) ego state yang terluka. Untuk itu, konseling traumatik dengan menggunakan teknik ego state therapy dapat menjadi solusi dalam menangani kasus-kasus trauma.
DAFTAR PUSTAKA
Abramowitz, E., & Litchtenberg, P. (2010). A New Hypnotic Technique For Treating Combat Related Post Traumatic Stress Disorder : A Prospective Open Study. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, 58, 316–328.
Arif, Antonius. (2011). Ego State Therapy. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Barabasz, Arreed, Marianne Barabasz & Jhon G. Watkins. (2011). Single-Session Manualized Ego State Therapy For Combat Stress Injury, Post Traumatic Stress Disorder, Acuted Stress Disorder, Part 1 : The Theory. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, 59, 379-391.
Carll, Elizabeth K. (2007). Trauma Psychology : Issues In Violence, Disaster, Health, and Illness. United Kingdom : Greenwood Publishing Group, Inc.
Emmerson, Gordon. (2003). Ego State Therapy. Carmethen, United Kingdom : Crown House
Flanagan, Jhon-Sommers & Rika-Sommers Flanagan. (2004). Counselling and Psychotherapy Theory In Context and Practice. New Jersey : Jhon Wiley and Son, Inc.
Forgash, Carol & Jim Knipe. (2008). Integrating EMDR and Ego State Therapy for Client with Trauma Disorder. In Carol L. Forgash and Margaret Copeley, Healing Trauma with EMDR and Ego State Therpay. (pp. 91-120). New York, NY : Springer Publishing.
Hartman, David & Diane Zimberoff. (2003). Ego State In Heart-Centered Therapies. Journal of Heart-Centered Therapies, Vol. 6, No. 1, pp. 47-92
Hawkins, Peter J. (2000). Hypnosis in Counselling and Psychotherapy. In Stephen Palmer, Introduction to Counselling and Psychotherapy : Essential Guide. London : Sage Publication Ltd
Herman, J. L. (1992). Trauma and recovery: The aftermath of violence—From domestic abuse to political terror. New York: Basic Books.
Hull, A. M. (2002). Neuroimaging Findings In Post Traumatic Stress Disorder. British Journal of Psychiatry, 181,102–110.
Litz, B. T. (1992). Emotional Numbering In Combat Related Post Traumatic Stress Disorder: A Critical Review and Reformation. Clinical Psychology Review, 12,417–432.
Lynn, Steve Jay & Judith W. Rhue. (1991). Theory of Hypnosis : Current Models and Perspective. New York : The Guilford Press
Neukrug, Ed. (2012). The World of Counselor : An Introduction to The Counseling Profession. Belmont, CA : Brooks/Cole
Okawa, Judy B. & Ronda B Hauss. (2007). The Trauma of Politically Motivated Torture. In Elizabeth K. Carll, Trauma Psychology : Issues In Violence, Disaster, Health, and Illness. (pp. 33-60) United Kingdom : Greenwood Publishing Group, Inc.
Philips, Maggie. (2001). Healing The Divided Self. In Raymond J. Corsini, Handbook of Innovative Therapy. (pp. 279-292). New York, NY : Jhon Wiley & Son, Inc.
Philips, Maggie. (2008). Combinging Hypnosis with EMDR and Ego State Therapy for Ego Strengthening, In Carol L. Forgash and Margaret Copeley, Healing Trauma with EMDR and Ego State Therpay. (pp. 91-120). New York, NY : Springer Publishing
Van der Kolk, B. (1994). Psychobiology of Post Traumatic Stress Disorder. In J. Panksepp (Ed.), Text Book of Biological Psychiatry (pp. 319–344). New York, NY : Wiley-Liss
Watkins, Jhon G. & Watkins, Helen H. (1997). Ego State : Theory and Therapy. New York, NY : Norton & Company
Watkins, Jhon G. & Barabasz, Arreed. (2005). Hypnotherapeutic Techniques 2E. New York, NY : Routledge
Watkins, Jhon G. & Barabasz, Arreed. (2008). Advanced Hypnotherapy : Hypnodynamic Technique. New York, NY : Routledge
Watkins, Helen Huth. (1993). Ego State Therapy : Overview. American Journal of Clinical Hypnosis. Vol. 35, No. 4, pp 232–240.
Weaver, Andrew J. et all. (2003). Counseling Survivors of Traumatic Events : A Handbook for Pastoral and Other Helping Professional. Nashville : Abingdon Press
Yard, S., DuHamel, K., & Galynker, I. (2008). Hypnotizability As A Potential Risk Factor For Post Traumatic Stress : A Review of Quantitative Studies. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, 56, 334–356
Selasa, 19 Juni 2012
5 HAL YANG MENYEBABKAN PELUPA
seseorang? Ya, penyakit lupa memang sulit dihindari. Namun, bukan berarti hal itu tidak bisa diatasi.
Hasil dari sebuah riset di Inggris yang dilakukan oleh National-Lottery.co.uk menunjukkan bahwa sebagian besar orang dewasa melupakan setidaknya tiga hal ketika mereka berbelanja ke supermarket. Pertama, mereka lupa harus berbelanja apa. Kedua, lupa meninggalkan makanan atau minuman mereka hingga dingin. Terakhir, lupa meletakkan kunci rumah atau mobil mereka.
Penyakit lupa yang sering diderita ini memang awalnya muncul dari hal-hal kecil. Hal kecil itu kemudian dibiarkan karena dianggap sepele. Padahal, jika dibiarkan berlanjut, maka bukan tidak mungkin, memori otak kita semakin melemah.
Menurut dr Hermawan Suryadi, SpS, dokter spesialis saraf, mengingat sesuatu memang bagian dari tugas memori otak. Lupa, tambahnya, sering terjadi karena otak tidak bisa menyimpan semua data. "Kalau ada hal-hal yang tidak diberi perhatian khusus atau dianggap tidak penting, maka otak tidak akan menyimpan dan merekam. Itu sebabnya kita lupa," urai dr Hermawan.
Secara teori, menurut dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Mitra Kemayoran ini, memori otak sebenarnya bisa dipakai hingga usia 80 tahun. Namun, kemampuannya akan menurun seiring pertambahan usia dan penurunan fungsi bagian tubuh yang lain.
Namun, bukan tidak mungkin, penurunan memori otak sudah terjadi di usia produktif, pada orang berusia muda. Penyakit lupa di usia muda salah satunya disebabkan gaya hidup yang tidak sehat. Niatnya menjaga dan merawat otak, gaya hidup kita seringkali malah merusaknya. Berikut adalah gaya hidup yang sering kita lakukan dan dapat merusak atau menurunkan fungsi otak.
Makan sembarangan. Kesibukan dan tuntutan pekerjaan terkadang membuat orang sering tidak memerhatikan apa yang masuk ke dalam tubuhnya melalui makanan. Menurut dr Hermawan, semua itu membentuk gaya hidup "asal kenyang" dan "asal enak" sehingga banyak yang tidak memedulikan asupan gizi yang dibutuhkan tubuh. Kecenderungannya, mereka memilih makanan instan yang banyak menggunakan zat kimia berbahaya, makanan cepat saji, atau makanan-makanan dengan kandungan lemak, gula, dan garam yang tinggi. Makanan-makanan tersebut berbahaya karena dapat memicu penyakit seperti stroke, yang akhirnya berdampak langsung pada otak.
Rokok dan racun. Tidak hanya menyebabkan penyakit-penyakit kronis untuk tubuh, seperti kanker atau stroke, rokok dan racun-racun lain seperti narkoba dapat merusak sel-sel dan menghambat regenerasi sel, termasuk sel-sel otak manusia. Hal itu akan memicu penuaan dini. Salah satu ciri penuaan dini yang terjadi adalah menurunnya daya ingat.
Kurang tidur. Pekerjaan atau tawaran hiburan terkadang membuat kita lupa waktu dan lupa istirahat, termasuk lupa tidur. Menurut dr Hermawan, setidaknya sepertiga waktu manusia digunakan untuk beristirahat. Artinya, kita seharusnya memiliki waktu tidur sekitar delapan jam dalam sehari. Saat tidur itulah tubuh beristirahat dan melakukan normalisasi, termasuk otak. Akan tetapi, tak hanya jatah tidur yang diperhatikan, kualitas tidur pun harus sangat dijaga. Tidur yang berkualitas adalah tidur yang tanpa dengkuran. Dengkuran dapat memicu penyakit lain, seperti jantung atau stroke, lho. Selain itu, mendengkur, menurut dr Hermawan, dapat menyebabkan pikun.
Stres. Stres akan memicu ketegangan di otak dan membuat energi otak habis. Itu sebabnya pada orang stres sering kali muncul istilah pikiran buntu atau mampet. Seseorang yang mengalami stres biasanya tidak dapat berpikir jernih atau normal karena otaknya kewalahan dan kehabisan energi, termasuk saat harus mengingat atau mencari informasi di otak. Stres yang berlebihan juga dapat memacu pelepasan hormon kortisol yang akan mengganggu ingatan.
Malas. Banyak orang yang bekerja hingga kelelahan sehingga malas berinteraksi dengan orang lain dan malas berolahraga. Padahal, interaksi dengan orang lain membuat otak kita terasah. Sering kali dalam mengobrol, ingatan lama dipanggil kembali sehingga memori otak terlatih. Selain menjaga kebugaran tubuh, olahraga tentu saja juga dapat menjaga kebugaran otak karena saat berolahraga, biasanya kita akan rileks dan otak menjadi tidak tegang. Berolahraga juga memungkinkan kita menjalin komunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.
Hasil dari sebuah riset di Inggris yang dilakukan oleh National-Lottery.co.uk menunjukkan bahwa sebagian besar orang dewasa melupakan setidaknya tiga hal ketika mereka berbelanja ke supermarket. Pertama, mereka lupa harus berbelanja apa. Kedua, lupa meninggalkan makanan atau minuman mereka hingga dingin. Terakhir, lupa meletakkan kunci rumah atau mobil mereka.
Penyakit lupa yang sering diderita ini memang awalnya muncul dari hal-hal kecil. Hal kecil itu kemudian dibiarkan karena dianggap sepele. Padahal, jika dibiarkan berlanjut, maka bukan tidak mungkin, memori otak kita semakin melemah.
Menurut dr Hermawan Suryadi, SpS, dokter spesialis saraf, mengingat sesuatu memang bagian dari tugas memori otak. Lupa, tambahnya, sering terjadi karena otak tidak bisa menyimpan semua data. "Kalau ada hal-hal yang tidak diberi perhatian khusus atau dianggap tidak penting, maka otak tidak akan menyimpan dan merekam. Itu sebabnya kita lupa," urai dr Hermawan.
Secara teori, menurut dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Mitra Kemayoran ini, memori otak sebenarnya bisa dipakai hingga usia 80 tahun. Namun, kemampuannya akan menurun seiring pertambahan usia dan penurunan fungsi bagian tubuh yang lain.
Namun, bukan tidak mungkin, penurunan memori otak sudah terjadi di usia produktif, pada orang berusia muda. Penyakit lupa di usia muda salah satunya disebabkan gaya hidup yang tidak sehat. Niatnya menjaga dan merawat otak, gaya hidup kita seringkali malah merusaknya. Berikut adalah gaya hidup yang sering kita lakukan dan dapat merusak atau menurunkan fungsi otak.
Makan sembarangan. Kesibukan dan tuntutan pekerjaan terkadang membuat orang sering tidak memerhatikan apa yang masuk ke dalam tubuhnya melalui makanan. Menurut dr Hermawan, semua itu membentuk gaya hidup "asal kenyang" dan "asal enak" sehingga banyak yang tidak memedulikan asupan gizi yang dibutuhkan tubuh. Kecenderungannya, mereka memilih makanan instan yang banyak menggunakan zat kimia berbahaya, makanan cepat saji, atau makanan-makanan dengan kandungan lemak, gula, dan garam yang tinggi. Makanan-makanan tersebut berbahaya karena dapat memicu penyakit seperti stroke, yang akhirnya berdampak langsung pada otak.
Rokok dan racun. Tidak hanya menyebabkan penyakit-penyakit kronis untuk tubuh, seperti kanker atau stroke, rokok dan racun-racun lain seperti narkoba dapat merusak sel-sel dan menghambat regenerasi sel, termasuk sel-sel otak manusia. Hal itu akan memicu penuaan dini. Salah satu ciri penuaan dini yang terjadi adalah menurunnya daya ingat.
Kurang tidur. Pekerjaan atau tawaran hiburan terkadang membuat kita lupa waktu dan lupa istirahat, termasuk lupa tidur. Menurut dr Hermawan, setidaknya sepertiga waktu manusia digunakan untuk beristirahat. Artinya, kita seharusnya memiliki waktu tidur sekitar delapan jam dalam sehari. Saat tidur itulah tubuh beristirahat dan melakukan normalisasi, termasuk otak. Akan tetapi, tak hanya jatah tidur yang diperhatikan, kualitas tidur pun harus sangat dijaga. Tidur yang berkualitas adalah tidur yang tanpa dengkuran. Dengkuran dapat memicu penyakit lain, seperti jantung atau stroke, lho. Selain itu, mendengkur, menurut dr Hermawan, dapat menyebabkan pikun.
Stres. Stres akan memicu ketegangan di otak dan membuat energi otak habis. Itu sebabnya pada orang stres sering kali muncul istilah pikiran buntu atau mampet. Seseorang yang mengalami stres biasanya tidak dapat berpikir jernih atau normal karena otaknya kewalahan dan kehabisan energi, termasuk saat harus mengingat atau mencari informasi di otak. Stres yang berlebihan juga dapat memacu pelepasan hormon kortisol yang akan mengganggu ingatan.
Malas. Banyak orang yang bekerja hingga kelelahan sehingga malas berinteraksi dengan orang lain dan malas berolahraga. Padahal, interaksi dengan orang lain membuat otak kita terasah. Sering kali dalam mengobrol, ingatan lama dipanggil kembali sehingga memori otak terlatih. Selain menjaga kebugaran tubuh, olahraga tentu saja juga dapat menjaga kebugaran otak karena saat berolahraga, biasanya kita akan rileks dan otak menjadi tidak tegang. Berolahraga juga memungkinkan kita menjalin komunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.
Minggu, 17 Juni 2012
REMAJA AWAL
syainullah
Rabu, 02 Mei 2012
REMAJA AWAL
1. Masa praremaja (remaja awal 13-17 tahun)
Masa praremaja biasanya berlangsung hanya dalam waktu relatif singkat. Masa ini ditandai oleh sifat-sifat negative pada si remaja sehingga seringkali masa ini disebut masa negative dengan gejalanya seperti tidak senang, kurang suka bekerja, pesimisitik, dan sebagainya. Secara garis besar sifat-sifat negative tersebut dapat diringkas, yaitu a) negative dalam prestasi, baik prestasi jasmani maupun prestasi mental; dan b) negative dalam sosial, baik dalam bentuk menarik diri dari masyarakat (negative positif) maupun dalam bentuk agresif terhadap masyarakat (negative aktif).
Pada usia tersebut, tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:
1. Mencapai hubungan yang baru dan lebih masak dengan teman sebaya baik sesama jenis maupun lawan jenis
2. Mencapai peran sosial maskulin dan feminin
3. Menerima keadaan fisik dan dapat mempergunakannya secara efektif
4. Mencapai kemandirian secara emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
5. Mencapai kepastian untuk mandiri secara ekonomi
6. Memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja
7. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan dan kehidupan keluarga
8. Mengembangkan kemampuan dan konsep-konsep intelektual untuk tercapainya kompetensi sebagai warga negara
9. Menginginkan dan mencapai perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan secara sosial
10. Memperoleh rangkaian sistem nilai dan etika sebagai pedoman perilaku (Havighurst dalam Hurlock, 1973).
Tidak semua remaja dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan baik. Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu:
1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.
• Konformitas kelompok remaja
Persoalan remaja yang bergerak menuju teman sebaya dipandang sebagai upaya penemuan identitas/jati diri mereka dan sebagai pernyataan emansipasi sosial mereka; yaitu cenderung membentuk suatu kelompok dalam bidang tertentu. Pada pihak lain kelompok remaja akan menambah kohesifitas antar anggota kelompok seiring dengan frekuensi pertemuan mereka.
Dalam berkelompok remaja cenderung memiliki kohesifitas yang tinggi dan dalam keadaan seperti ini akan berkembang iklim penciptaan norma-norma kelompok yang mereka buat sendiri yang sesuai dengan keinginan mereka. Apabila norma-norma yang terbentuk dalam kelompok tidak bertentangan dengan norma yang telah terbentuk dalam keluarga sebelumnya, maka hal ini tidak menjadi masalah. Namun bila norma kelompok bertentangan dengan norma keluarga, maka hal ini yang akan menjadi masalah. Sebab dalam kelompok yang mempunyai kohesifitas yang tinggi tidak akan memberikan toleransi pada salah satu anggota kelompok yang mempunyai pandangan yang berbeda. Hal ini akan menyebabkan terhambatnya pengembangan identitas pribadi yang lebih lanjut. Suatu kelompok remaja seharusnya mampu untuk mengarahkan individu pada pengembagan diri, justru menjadi penghambat bagi pengembagan emansipasi individu.
Salah satu ciri lain dari kelompok remaja awal adalah kelompok ini masih tunduk pada kelompok yang lebih berkuasa, seperti lembaga pendidikan, pemerintahan. Dalam hal ini peran sekolah sebagai lembaga pendidikan dan pemerintah diharapkan mampu memberi perhatian pada kelompok remaja dan membantu mereka untuk mampu membentuk norma kelompok yang selaras dengan agama dan hukum formal.
Dua jenis permasalahan yang telah dibahas dengan singkat diatas bisa kita jadikan sebagai acuan dalam upaya memahami permasalahan remaja yang timbul. Banyak anak permasalahan yang muncul dari 2 jenis permasalahan diatas yaitu; kemandirian dan krisis identitas, konformitas kelompok remaja, diantaranya, intensitas dalam berteman meningkat, suka meniru gaya teman, terlalu percaya diri dan emosi yang tak terkontrol dan masih banyak permasalahan lainnya.
Perkembangan remaja selayaknya menjadi tanggung jawab bersama; orang tua, lembaga pendidikan, lingkungan dan pemerintah. Dalam Bryn (1985) Donald Winnicott menyebutkan berbagai upaya dalam membantu perkembangan anak remaja kita, sebagai berikut:
1. Memenuhi kebutuhan jasmani
2. Memberikan ikatan dan hubungan emosi
3. Memberi suatu landasan yang kokoh (lingkungan rumah dan hubungan keluarga yang asri)
4. Membimbing mengendalikan perilaku
5. Mengajarkan cara berkomunikasi
6. Memberikan berbagai pengalaman hidup yang normal
7. Membantu anak menjadi bagian anggota keluarga, dan
8. Memberikan role model (suri tauladan) pada anak.
Selain orang tua, lingkungan sekolah harus mampu memberikan fasilitas, media, wadah kegiatan yang positif serta bimbingan sosial yang akan sangat membantu remaja menemukan identitas yang baik dan mampu mempertahankannya. Begitu pula pemerintah seyogyanya mendukung berbagai kegiatan remaja dan mengarahkan kearah yang positif serta menjadikan remaja sebagai bagian dari warga negara yang butuh dipenuhi hak sebagai warga negara serta penghargaan yang baik terhadap prestasi remaja.
Perkembangan pada remaja merupakan proses untuk mencapaikemasakan dalam berbagai aspek sampai tercapainya tingkat kedewasaan. Proses ini adalah sebuah proses yang memperlihatkan hubungan erat antara perkembangan aspek fisik dengan psikis pada remaja.
1. Perkembangan fisik remaja
Menurut Imran (1998) masa remaja diawali dengan masa pubertas, yaitu masa terjadinya perubahan-perubahan fisik (meliputi penampilan fisik seperti bentuk tubuh dan proporsi tubuh) dan fungsi fisiologis (kematangan organ-organ seksual). Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas ini merupakan peristiwa yang paling penting, berlangsung cepat, drastis, tidak beraturan dan terjadi pada sisitem reproduksi. Hormon-hormon mulai diproduksi dan mempengaruhi organreproduksi untuk memulai siklus reproduksi serta mempengaruhi terjadinya perubahan tubuh. Perubahan tubuh ini disertai dengan perkembangan bertahap dari karakteristik seksual primer dan karakteristik seksual sekunder. Karakteristik seksual primer mencakup perkembangan organ-organ reproduksi, sedangkan karakteristik seksual sekunder mencakup perubahan dalam bentuk tubuh sesuai dengan jenis kelamin misalnya, pada remaja putri ditandai dengan menarche (menstruasi pertama), tumbuhnya rambut-rambut pubis, pembesaran buah dada, pinggul, sedangkan pada remaja putra mengalami pollutio (mimpi basah pertama), pembesaran suara, tumbuh rambut-rambut pubis, tumbuh rambut pada bagian tertentu seperti di dada, di kaki, kumis dan sebagainya.
Secara umum, terjadi pertumbuhan dan perkembangan pisik yang sangat pesat dalam masa remaja awal ( 12/13 – 17/18 tahun ). Menurut Dr. Zakiah Daradjat, bahwa di antara hal yang kurang menyenangkan remaja, adalah adanya beberapa bagian tubuh yang cepat pertumbuhannya, sehingga mendahului bagian yang lain seperti kaki, tangan dan hidung yang mengakibatkan cemasnya rremaja melihat wajah dan tubuhnya yang kurang bagus. Hal lain yang dikhawatirkan adalah bentuk badan yang terlalu gemuk, kurus, pendek, tinggi (Jangkung). Wajah yang kurang tampan atau cantik, ada jerawatnya dan sebagainya.
2. Perkembangan Psikis Remaja
Ketika memasuki masa pubertas, setiap anak telah mempunyai sistem kepribadian yang merupakan pembentukan dari perkembangan selama ini. Di luar sistem kepribadian anak seperti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi, pengaruh media massa, keluarga, sekolah, teman sebaya, budaya, agama, nilai dan norma masyarakat tidak dapat diabaikan dalam proses pembentukan kepribadian tersebut. Pada masa remaja, seringkali berbagai faktor penunjang ini dapat saling mendukung dan dapat saling berbenturan nilai.
Pertumbuhan Kelenjar-kelenjar Seks dan Perkembangan Seksual Remaja Awal.
Pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks (Gonads) remaja, sesungguhnya merupakan bagian integral dari pertumbuhan dan perkembangan jasmani secara menyeluruh lebih jauh lagi, bahwa kematangan seksual dalam usia remaja awal dan parohan pertama remaja akhir mempunyai korelasi positif dengan perkembangan sosial mereka. Hal semacam ini ditunjukkan oleh hasil penelitian James dan Moore terhadap remaja yang berusia antara 12 – 21 tahun dengan jumlah sampel 535 orang. Perkembangan perilaku seksual yang lebih bersangkutan dengan diri remaja, diantaranya yang sangat menonjol dan penting adalah onani atau masturbasi. Hal-hal seperti tentang seks ini tentu saja berpengaruh terhadap minat mereka pada sekolah atau pelajaran.
Pertumbuhan Otak dan Perkembangan Kemampuan Remaja Awal
Pertumbuhan otak anak wanita mengikat lebih cepat dalam usia 11 tahun dibandingkan pertumbuhan otak pria, tetapi pertumbuhan otak anak pria di usia 13 tahun meningkat 2 kali lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan pertumbuhan anak wanita seusia.
Selain itu terdapat pula bukti-bukti hasil penelitian yang menyimpulkan hal yang menyangkut pola dan cara berpikir remaja cenderung mengikuti orang-orang dewasa yang telah menunjukkan kemampuan berpikirnya. Ini mengisyaratkan adanya sisi positif dari perkembangan kemampuan psikis remaja awal. Sisi positif pertumbuhan otak dan perkembangan kemampuan pikir remaja, memanglah berimplikasi terhadap praktek-praktek pendidikan di sekolah.
Perkembangan ( dua pertumbuhan ) sikap, perasaan emosi, remaja awal, sikap perasaan/emosi seseorang telah ada 2 berkembang semenjak ia bergaul dengan lingkungan. Timbul sikap, perasaan / emosi itu (positif atau negatif) merupakan produk pengamatan dan pengalaman induvidu secara unik dengan benda fisik lingkungannya. Dengan orang tua dan saudara, serta pergaulan sosial yang labih luas perasaan yang sangat takuti oleh remaja adalah takut dikucilkan atau tersindir dari kelompoknya. Rasa sedih merupakan sebagaian emosi yang sangat menonjol dalam massa remaja awal. Sebaliknya perasaan gembira biasanya akan nampak manakala si remaja mendapat pujian, terutama pujian terhadap diri atau hasil usahanya. Bentuk – bentuk emosi yang sering muncul dalam masa remaja awal adalah marah, malu, takut, cemas, cemburu, iri hati, sedih, gembira, kasih sayang ingin tahu.
Perkembangan minat/ cita-cita remaja awal
Minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut atau kencenderungan lain yang mengarahkan induvidu kepada suatu pilihan tertentu, sedangkan cita-cita merupakan perwujudan dari minat.
Bentuk – bentuk minat / cita-cita yang dipunyai remaja awal, sangat beragam bentuknya seperti minat pribadi dan sosial. Minat terhadap rekreasi, minat terhadap agama dan terhadap sekolah.
Perkembangan pribadi, sosial dan Moral remaja awal
Pribadi diartikan sebagai organisme yang dinamis dalam sistem pisik dan pisikis yang menentukan keunikan sesorang menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Remaja dengan citra dirinya, menilai diri sendiri dan menilai lingkungannya terutama lingkungan sosial misalnya remaja menyadari adanya sifat-sifat sikap sendiri yang baik dan buruk. Moral adalah sebagai standar yang muncul dari agama dan lingkungan sosial remaja, memberikan konsep yang baik dan buruk, patut dan tidak, layak dan tidak layak secara mutlak.
Rabu, 02 Mei 2012
REMAJA AWAL
1. Masa praremaja (remaja awal 13-17 tahun)
Masa praremaja biasanya berlangsung hanya dalam waktu relatif singkat. Masa ini ditandai oleh sifat-sifat negative pada si remaja sehingga seringkali masa ini disebut masa negative dengan gejalanya seperti tidak senang, kurang suka bekerja, pesimisitik, dan sebagainya. Secara garis besar sifat-sifat negative tersebut dapat diringkas, yaitu a) negative dalam prestasi, baik prestasi jasmani maupun prestasi mental; dan b) negative dalam sosial, baik dalam bentuk menarik diri dari masyarakat (negative positif) maupun dalam bentuk agresif terhadap masyarakat (negative aktif).
Pada usia tersebut, tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:
1. Mencapai hubungan yang baru dan lebih masak dengan teman sebaya baik sesama jenis maupun lawan jenis
2. Mencapai peran sosial maskulin dan feminin
3. Menerima keadaan fisik dan dapat mempergunakannya secara efektif
4. Mencapai kemandirian secara emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
5. Mencapai kepastian untuk mandiri secara ekonomi
6. Memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja
7. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan dan kehidupan keluarga
8. Mengembangkan kemampuan dan konsep-konsep intelektual untuk tercapainya kompetensi sebagai warga negara
9. Menginginkan dan mencapai perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan secara sosial
10. Memperoleh rangkaian sistem nilai dan etika sebagai pedoman perilaku (Havighurst dalam Hurlock, 1973).
Tidak semua remaja dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan baik. Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu:
1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.
• Konformitas kelompok remaja
Persoalan remaja yang bergerak menuju teman sebaya dipandang sebagai upaya penemuan identitas/jati diri mereka dan sebagai pernyataan emansipasi sosial mereka; yaitu cenderung membentuk suatu kelompok dalam bidang tertentu. Pada pihak lain kelompok remaja akan menambah kohesifitas antar anggota kelompok seiring dengan frekuensi pertemuan mereka.
Dalam berkelompok remaja cenderung memiliki kohesifitas yang tinggi dan dalam keadaan seperti ini akan berkembang iklim penciptaan norma-norma kelompok yang mereka buat sendiri yang sesuai dengan keinginan mereka. Apabila norma-norma yang terbentuk dalam kelompok tidak bertentangan dengan norma yang telah terbentuk dalam keluarga sebelumnya, maka hal ini tidak menjadi masalah. Namun bila norma kelompok bertentangan dengan norma keluarga, maka hal ini yang akan menjadi masalah. Sebab dalam kelompok yang mempunyai kohesifitas yang tinggi tidak akan memberikan toleransi pada salah satu anggota kelompok yang mempunyai pandangan yang berbeda. Hal ini akan menyebabkan terhambatnya pengembangan identitas pribadi yang lebih lanjut. Suatu kelompok remaja seharusnya mampu untuk mengarahkan individu pada pengembagan diri, justru menjadi penghambat bagi pengembagan emansipasi individu.
Salah satu ciri lain dari kelompok remaja awal adalah kelompok ini masih tunduk pada kelompok yang lebih berkuasa, seperti lembaga pendidikan, pemerintahan. Dalam hal ini peran sekolah sebagai lembaga pendidikan dan pemerintah diharapkan mampu memberi perhatian pada kelompok remaja dan membantu mereka untuk mampu membentuk norma kelompok yang selaras dengan agama dan hukum formal.
Dua jenis permasalahan yang telah dibahas dengan singkat diatas bisa kita jadikan sebagai acuan dalam upaya memahami permasalahan remaja yang timbul. Banyak anak permasalahan yang muncul dari 2 jenis permasalahan diatas yaitu; kemandirian dan krisis identitas, konformitas kelompok remaja, diantaranya, intensitas dalam berteman meningkat, suka meniru gaya teman, terlalu percaya diri dan emosi yang tak terkontrol dan masih banyak permasalahan lainnya.
Perkembangan remaja selayaknya menjadi tanggung jawab bersama; orang tua, lembaga pendidikan, lingkungan dan pemerintah. Dalam Bryn (1985) Donald Winnicott menyebutkan berbagai upaya dalam membantu perkembangan anak remaja kita, sebagai berikut:
1. Memenuhi kebutuhan jasmani
2. Memberikan ikatan dan hubungan emosi
3. Memberi suatu landasan yang kokoh (lingkungan rumah dan hubungan keluarga yang asri)
4. Membimbing mengendalikan perilaku
5. Mengajarkan cara berkomunikasi
6. Memberikan berbagai pengalaman hidup yang normal
7. Membantu anak menjadi bagian anggota keluarga, dan
8. Memberikan role model (suri tauladan) pada anak.
Selain orang tua, lingkungan sekolah harus mampu memberikan fasilitas, media, wadah kegiatan yang positif serta bimbingan sosial yang akan sangat membantu remaja menemukan identitas yang baik dan mampu mempertahankannya. Begitu pula pemerintah seyogyanya mendukung berbagai kegiatan remaja dan mengarahkan kearah yang positif serta menjadikan remaja sebagai bagian dari warga negara yang butuh dipenuhi hak sebagai warga negara serta penghargaan yang baik terhadap prestasi remaja.
Perkembangan pada remaja merupakan proses untuk mencapaikemasakan dalam berbagai aspek sampai tercapainya tingkat kedewasaan. Proses ini adalah sebuah proses yang memperlihatkan hubungan erat antara perkembangan aspek fisik dengan psikis pada remaja.
1. Perkembangan fisik remaja
Menurut Imran (1998) masa remaja diawali dengan masa pubertas, yaitu masa terjadinya perubahan-perubahan fisik (meliputi penampilan fisik seperti bentuk tubuh dan proporsi tubuh) dan fungsi fisiologis (kematangan organ-organ seksual). Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas ini merupakan peristiwa yang paling penting, berlangsung cepat, drastis, tidak beraturan dan terjadi pada sisitem reproduksi. Hormon-hormon mulai diproduksi dan mempengaruhi organreproduksi untuk memulai siklus reproduksi serta mempengaruhi terjadinya perubahan tubuh. Perubahan tubuh ini disertai dengan perkembangan bertahap dari karakteristik seksual primer dan karakteristik seksual sekunder. Karakteristik seksual primer mencakup perkembangan organ-organ reproduksi, sedangkan karakteristik seksual sekunder mencakup perubahan dalam bentuk tubuh sesuai dengan jenis kelamin misalnya, pada remaja putri ditandai dengan menarche (menstruasi pertama), tumbuhnya rambut-rambut pubis, pembesaran buah dada, pinggul, sedangkan pada remaja putra mengalami pollutio (mimpi basah pertama), pembesaran suara, tumbuh rambut-rambut pubis, tumbuh rambut pada bagian tertentu seperti di dada, di kaki, kumis dan sebagainya.
Secara umum, terjadi pertumbuhan dan perkembangan pisik yang sangat pesat dalam masa remaja awal ( 12/13 – 17/18 tahun ). Menurut Dr. Zakiah Daradjat, bahwa di antara hal yang kurang menyenangkan remaja, adalah adanya beberapa bagian tubuh yang cepat pertumbuhannya, sehingga mendahului bagian yang lain seperti kaki, tangan dan hidung yang mengakibatkan cemasnya rremaja melihat wajah dan tubuhnya yang kurang bagus. Hal lain yang dikhawatirkan adalah bentuk badan yang terlalu gemuk, kurus, pendek, tinggi (Jangkung). Wajah yang kurang tampan atau cantik, ada jerawatnya dan sebagainya.
2. Perkembangan Psikis Remaja
Ketika memasuki masa pubertas, setiap anak telah mempunyai sistem kepribadian yang merupakan pembentukan dari perkembangan selama ini. Di luar sistem kepribadian anak seperti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi, pengaruh media massa, keluarga, sekolah, teman sebaya, budaya, agama, nilai dan norma masyarakat tidak dapat diabaikan dalam proses pembentukan kepribadian tersebut. Pada masa remaja, seringkali berbagai faktor penunjang ini dapat saling mendukung dan dapat saling berbenturan nilai.
Pertumbuhan Kelenjar-kelenjar Seks dan Perkembangan Seksual Remaja Awal.
Pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks (Gonads) remaja, sesungguhnya merupakan bagian integral dari pertumbuhan dan perkembangan jasmani secara menyeluruh lebih jauh lagi, bahwa kematangan seksual dalam usia remaja awal dan parohan pertama remaja akhir mempunyai korelasi positif dengan perkembangan sosial mereka. Hal semacam ini ditunjukkan oleh hasil penelitian James dan Moore terhadap remaja yang berusia antara 12 – 21 tahun dengan jumlah sampel 535 orang. Perkembangan perilaku seksual yang lebih bersangkutan dengan diri remaja, diantaranya yang sangat menonjol dan penting adalah onani atau masturbasi. Hal-hal seperti tentang seks ini tentu saja berpengaruh terhadap minat mereka pada sekolah atau pelajaran.
Pertumbuhan Otak dan Perkembangan Kemampuan Remaja Awal
Pertumbuhan otak anak wanita mengikat lebih cepat dalam usia 11 tahun dibandingkan pertumbuhan otak pria, tetapi pertumbuhan otak anak pria di usia 13 tahun meningkat 2 kali lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan pertumbuhan anak wanita seusia.
Selain itu terdapat pula bukti-bukti hasil penelitian yang menyimpulkan hal yang menyangkut pola dan cara berpikir remaja cenderung mengikuti orang-orang dewasa yang telah menunjukkan kemampuan berpikirnya. Ini mengisyaratkan adanya sisi positif dari perkembangan kemampuan psikis remaja awal. Sisi positif pertumbuhan otak dan perkembangan kemampuan pikir remaja, memanglah berimplikasi terhadap praktek-praktek pendidikan di sekolah.
Perkembangan ( dua pertumbuhan ) sikap, perasaan emosi, remaja awal, sikap perasaan/emosi seseorang telah ada 2 berkembang semenjak ia bergaul dengan lingkungan. Timbul sikap, perasaan / emosi itu (positif atau negatif) merupakan produk pengamatan dan pengalaman induvidu secara unik dengan benda fisik lingkungannya. Dengan orang tua dan saudara, serta pergaulan sosial yang labih luas perasaan yang sangat takuti oleh remaja adalah takut dikucilkan atau tersindir dari kelompoknya. Rasa sedih merupakan sebagaian emosi yang sangat menonjol dalam massa remaja awal. Sebaliknya perasaan gembira biasanya akan nampak manakala si remaja mendapat pujian, terutama pujian terhadap diri atau hasil usahanya. Bentuk – bentuk emosi yang sering muncul dalam masa remaja awal adalah marah, malu, takut, cemas, cemburu, iri hati, sedih, gembira, kasih sayang ingin tahu.
Perkembangan minat/ cita-cita remaja awal
Minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut atau kencenderungan lain yang mengarahkan induvidu kepada suatu pilihan tertentu, sedangkan cita-cita merupakan perwujudan dari minat.
Bentuk – bentuk minat / cita-cita yang dipunyai remaja awal, sangat beragam bentuknya seperti minat pribadi dan sosial. Minat terhadap rekreasi, minat terhadap agama dan terhadap sekolah.
Perkembangan pribadi, sosial dan Moral remaja awal
Pribadi diartikan sebagai organisme yang dinamis dalam sistem pisik dan pisikis yang menentukan keunikan sesorang menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Remaja dengan citra dirinya, menilai diri sendiri dan menilai lingkungannya terutama lingkungan sosial misalnya remaja menyadari adanya sifat-sifat sikap sendiri yang baik dan buruk. Moral adalah sebagai standar yang muncul dari agama dan lingkungan sosial remaja, memberikan konsep yang baik dan buruk, patut dan tidak, layak dan tidak layak secara mutlak.
Teori Pembelajaran
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Banyak teori tentang belajar yang telah berkembang mulai abad ke 19 sampai sekarang ini. Pada awal abad ke-19 teori belajar yang berkembang pesat dan memberi banyak sumbangan terhadap para ahli psikologi adalah teori belajar tingkah laku (behaviorisme) yang awal mulanya dikembangkan oleh psikolog Rusia Ivan Pavlav (tahun 1900-an) dengan teorinya yang dikenal dengan istilah pengkondisian klasik (classical conditioning) dan kemudian teori belajar tingkah laku ini dikembangkan oleh beberapa ahli psikologi yang lain seperti Edward Thorndike, B.F Skinner dan Gestalt.
Teori belajar behaviorisme ini berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau Penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Dalam teori belajar ini guru tidak banyak memberikan ceramah,tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi.
Di awal abad 20 sampai sekarang ini teori belajar behaviorisme mulai ditinggalkan dan banyak ahli psikologi yang baru lebih mengembangkan teori belajar kognitif dengan asumsi dasar bahwa kognisi mempengaruhi prilaku. Penekanan kognitif menjadi basis bagi pendekatan untuk pembelajaran. Walaupun teori belajar tigkah laku mulai ditinggalkan diabad ini, namun mengkolaborasikan teori ini dengan teori belajar kognitif dan teori belajar lainnya sangat penting untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang cocok dan efektif, karena pada dasarnya tidak ada satu pun teori belajar yang betul-betul cocok untuk menciptakan sebuah pendekatan pembelajaran yang pas dan efektif.
A. Tujuan
Penyusunan makalah bertujuan agar penulis mampu memahami :
1. Konsep Teori Behaviorisme dala pembelajaran
2. Tokoh-tokoh teori behaviorisme
3. Sejarah munculnya teori kondisioning operan B.F Skinner.
4. Kajian umum teori B.F Skinner.
5. Aplikasi teori skinner terhadap pembelajaran.
6. Analisis perilaku terapan dalam pendidikan
7. Kelebihan dan kekurangan teori skinner
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Teori Behaviorisme Dalam Pembelajaran
Definisi
Adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan. Pengalaman danpemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.
Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis,menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon,menekankan pentingnya latihan,mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkanperanan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yangdiinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah lakumanusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement darilingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antarareaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan iniberpandapat bahwatingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dantingkahl laku adalah hasil belajar.
Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau memperoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka
Prinsip-prinsip teori behaviorisme adalah :
1. Obyek psikologi adalah tingkah laku
2. Semua bentuk tingkah laku dikembalikan pada reflek
3. Mementingkan pembentukan kebiasaan
Aristoteles berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, seperti sebuah meja lilin yang siap dilukis oleh pengalaman. Menurut John Locke(1632-1704), salah satu tokoh empiris, pada waktu lahir manusia tidak mempunyai “warna mental”. Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman adalah satu-satunya jalan ke pemilikan pengetahuan. Idea dan pengetahuan adalah produk dari pengalaman. Secara psikologis, seluruh perilaku manusia, kepribadian, dan tempramen ditentukan oleh pengalaman inderawi (sensory experience). Pikiran dan perasaan disebabkan oleh perilaku masa lalu.
Kesulitan empirisme dalam menjelaskan gejala psikologi timbul ketika orang membicarakan apa yang mendorong manusia berperilaku tertentu. Hedonisme, memandang manusia sebagai makhluk yang bergerak untuk memenuhi kepentingan dirinya, mencari kesenangan, dan menghindari penderitaan. Dalam utilitarianismem perilaku anusia tunduk pada prinsip ganjaran dan hukuman. Bila empirisme digabung dengan hedonisme dan utilitariansisme, maka itulah yang disebut dengan behaviorisme.
Asumsi bahwa pengalaman adalah paling berpengaruh dala pembentukan perilaku, menyiratkan betapa plastisnya manusia. Ia mudah dibentuk menjadi apa pun dengan menciptakan lingkungan yang relevan
Thorndike dan Watson, kaum behaviorisme berpendirian: organisme dilahirkan tanpa sifat-sifat sosial atau psikologis; perilaku adalah hasil pengalaman dan prilaku digerakan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan. Aliran behavioristik yang lebih bersifat elementaristik memandang manusia sebagai organisme yang pasif, yang dikuasai oleh stimulus-stimulus yang ada di lingkungannya. Pada dasarnya, manusia dapat dimanipulasi, tingkah lakunya dapat dikontrol dengan jalan mengontrol stimulus-stimulus yang ada dalam lingkungannya (Mukminan, 1997: 7). Masalah belajar dalam pandangan behaviorisme, secara umum, memiliki beberapa teori, antara lain: teori Connectionism, Classical Conditioning, Contiguous Conditioning, serta Descriptive Behaviorisme atau yang lebih dikenal dengan nama Operant Conditioning.
Tokoh-tokoh penting yang mengembangkan teori belajar behavioristik,dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Edward Edward Lee Thorndike (1874-(1874-1949)
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori “connectionism”. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, adal eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan. Thorndike menemukan hukum-hukum, yaitu :
a. Hukum kesiapan (Law of Readiness)
Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderung diperkuat.
b. Hukum latihan
Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat.
c. Hukum akibat
Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibanya tidak memuaskan.
1. Ivan Petrovich Pavlo (1849-1936)
Teori pelaziman klasik Adalah memasangkan stimuli yang netral atau stimuli yang terkondisi dengan stimuli tertentu yang tidak terkondisikan, yang melahirkan perilaku tertentu. Setelah pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimuli yang netral melahirkan respons terkondisikan. Pavlo mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank. Dari contoh tersebut diterapkan strategi Pavlo ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar. Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.
1. Albert Bandura (1925-sekarang)
Ternyata tidak semua perilaku dapat dijelaskan dengan pelaziman. Bandura menambahkan konsep belajar sosial (social learning). Ia mempermasalahkan peranan ganjaran dan hukuman dalam proses belajar. Kaum behaviorisme tradisional menjelaskan bahwa kata-kata yang semula tidak ada maknanya, dipasangkan dengan lambak atau obyek yang punya makna (pelaziman klasik).
Teori belajar Bandura adalah teori belajar social atau kognitif social serta efikasi diri yang menunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan emosi orang lain. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi tingkah laku timbale balik yang berkesinambungan antara kognitine perilaku dan pengaruh lingkungan. Factor-faktor yang berproses dalam observasi adalah perhatian, mengingat, produksi motorik, motivasi.
Behaviorsime memang agak sukar menjelaskan motivasi. Motivasi terjadi dalam diri individu, sedang kaum behavioris hanya melihat pada peristiwa-peristiwa eksternal. Perasaan dan pikiran orang tidak menarik mereka. Behaviorisme muncul sebagai reaksi pada psikologi “mentalistik”.
1. Carlk L. Hull
Reinforcement adalah faktor penting dalam belajar yang harus ada. Namun fungsi reinforcement bagi Hull lebih sebagai drive reduction daripada satisfied factor. Dalam mempelajari hubungan S-R yang diperlu dikaji adalah peranan dari intervening variable (atau yang juga dikenal sebagai unsur O (organisma). Faktor O adalah kondisi internal dan sesuatu yang disimpulkan (inferred), efeknya dapat dilihat pada faktor R yang berupa output
1. Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
6. Teori Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Untuk lebih lengkapnya penulis akan membahas teori kondisioning operan pada bagian berikut ini.
B. Teori Kondisioning Operan Menurut B.F.Skiner.
1. Sejarah teori Kondisioning Operan menurut B.F. Skinner
Asas pengkondisian operan B.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an, pada waktu keluarnya teori S-R. Pada waktu keluarnya teori-teori S-R. pada waktu itu model kondisian klasik dari Pavlov telah memberikan pengaruh yang kuat pada pelaksanaan penelitian
Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur. Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya. Bukan begitu, banyak tingkah laku menghasilkan perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme dan dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti.
Asas-asas kondisioning operan adalah kelanjutan dari tradisi yang didirikan oleh John Watson. Artinya, agar psikologi bisa menjadi suatu ilmu, maka studi tingkah laku harus dijadikan fokus penelitian psikologi. Tidak seperti halnya teoritikus-teoritikus S-R lainnya, Skinner menghindari kontradiksi yang ditampilkan oleh model kondisioning klasik dari Pavlov dan kondisioning instrumental dari Thorndike. Ia mengajukan suatu paradigma yang mencakup kedua jenis respon itu dan berlanjut dengan mengupas kondisi-kondisi yang bertanggung jawab atas munculnya respons atau tingkah laku operan.
2. Kajian Teori Kondisioning Operan Menurut B.F.Skiner
Kondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi. Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning operan). Ada 6 asumsi yang membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E. Bell Gredler, hlm 122). Asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:
a. Belajar itu adalah tingkah laku.
b. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.
c. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama.
d. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.
Menurut Skinner (J.W. Santrock, 272) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment).Penguatan dan Hukuman. Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Menurut Skinner penguatan berarti memperkuat, penguatan dibagi menjadi dua bagian yaitu :
a. Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).
b. Penguatan negatif, adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).
Satu cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan penguatan negatif adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Dalam penguatan negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau di hilangkan. Adalah mudah mengacaukan penguatan negatif dengan hukuman. Agar istilah ini tidak rancu, ingat bahwa penguatan negatif meningkatkan probabilitas terjadinya suatu prilaku, sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya perilaku.
Contoh dari konsep penguatan positif, negatif, dan hukuman (J.W Santrock, 274).
A.Penguatan positif
Perilaku
Murid mengajukan pertanyaan yang bagus Konsekuensi
Guru menguji murid Prilaku kedepan
Murid mengajukan lebih banyak pertanyaan
B.Penguatan negatif
Perilaku
Murid menyerahkan PR tepat waktu Konsekuensi
Guru berhenti menegur murid Prilaku kedepan
Murid makin sering menyerahkan PR tepat waktu
C.Hukuman
Perilaku
Murid menyela guru Konsekuensi
Guru mengajar murid langsung Prilaku kedepan
Murid berhenti menyela guru
Ingat bahwa penguatan bisa berbentuk postif dan negatif. Dalam kedua bentuk itu, konsekuensi meningkatkan prilaku. Dalam hukuman, perilakunya berkurang.
Skinner menghasilkan suatu sistem ringkas yang dapat diterapkan pada dinamika perubahan tingkah laku baik di laboratorium maupun di dalam kelas. Belajar, yang digambarkan oleh makin tingginya angka keseringan respons, diberikan sebagai fungsi urutan ketiga unsure (SD)-(R)-(R Reinsf). Skinner menyebutkan praktek khas menempatkan binatang percobaan dalam “kontigensi terminal”. Maksudnya, binatang itu harus berusaha penuh resiko, berhasil atau gagal, dalam mencari jalan lepas dari kurungan atau makanan. Bukannya demikian itu prosedur yang mengena ialah membentuk tingkah-laku binatang itu melalui urutan Sitimulus-respon-penguatan yang diatur secara seksama.
Skinner menggambarkan praktek “tugas dan ujian” sebagai suatu contoh menempatkan pelajar yang manusia itu dalam kontigensi terminal juga. Skinner menyarankan penerapan cara pemberian penguatan komponen tingkah laku seperti menunjukkan perhatian pada stimulus dan melakukan studi yang cocok terhadap tingkah laku. Hukuman harus dihindari karena adanya hasil sampingan yang bersifat emosional dan tidak menjamin timbulnya tingkah laku positif yang diinginkan. Analisa yang dilakukan Skinner tersebut diatas meliputi peran penguat berkondisi dan alami, penguat positif dan negative, dan penguat umum.
Dengan demikian beberapa prinsip belajar yang dikembangkan oleh Skinner antara lain:
a. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.
b. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
c. Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
d. Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
e. Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Namun ini lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.
f. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebagainya. Hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforce
g. Dalam pembelajaran, digunakan shaping.
Disamping itu pula dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
a. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
b. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
3. Aplikasi Skinner terhadap pembelajaran.
Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
b. Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.
c. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi pelajaran digunakan sistem modul.
d. Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
e. Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
f. Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
g. Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
h. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
i. Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)
j. Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
k. Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan pembentukan (shaping).
l. Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
m. Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
n. Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Tugas guru berat, administrasi kompleks.
4. Analisa Perilaku terapan dalam pendidikan
Analisis Perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk mengubah perilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan yaitu
1. Meningkatkan perilaku yang diharapkan
Ada lima strategi pengkondisian operan dapat dipakai untuk meningkatkan perilaku anak yang diharapkan yaitu:
a. Memilih Penguatan yang efektif
Tidak semua penguatan akan sama efeknya bagi anak. Analisis perilaku terapan menganjurkan agar guru mencari tahu penguat apa yang paling baik untuk anak, yakni mengindividualisasikan penggunaan penguat tertentu. Untuk mencari penguatan yang efektif bagi seorang anak, disarankan untuk meneliti apa yang memotivasi anak dimasa lalu, apa yang dilakukan murid tapi tidak mudah diperolehnya, dan persepsi anak terhadap manfaat dan nilai penguatan. Penguatan alamiah seperti pujian lebih dianjurkan ketimbang penguat imbalan materi, seperti permen, mainan dan uang.
b. Menjadikan penguat kontingen dan tepat waktu
Agar penguatan dapat efektif, guru harus memberikan hanya setelah murid melakukan perilaku tertentu. Analisis perilaku terapan seringkali menganjurkan agar guru membuat pernyataan “jika…maka”. penguatan akan lebih efektif jika diberikan tepat pada waktunya, sesegera mungkin setelah murid menjalankan tindakan yang diharapkan. Ini akan membantu anak melihat hubungan kontingensi antar-imbalan dan perilaku mereka. Jika anak menyelesaikan perilaku sasaran (seperti mengerjakan sepuluh soal matematika) tapi guru tidak memberikan waktu bermain pada anak, maka anak itu mungkin akan kesulitan membuat hubungan kontingensi.
c. Memilih jadwal penguatan terbaik
Menyusun jadwal penguatan menentukan kapan suatu respons akan diperkuat. Empat jadwal penguatan utama adalah
1). Jadwal rasio tetap: suatu perilaku diperkuat setelah sejumlah
respon.
2). Jadwal rasio variabel : suatu perilaku diperkuat setelah terjadi
sejumlah respon, akan tetapi tidak berdasarkan basis yang dapat
diperidiksi.
3). Jadwal interval - tetap : respons tepat pertama setelah beberapa
waktu akan diperkuat.
4). Jadwal interval - variabel : suatu respons diperkuat setelah
sejumlah variabel waktu berlalu.
d. Menggunakan Perjanjian. Perjanjian (contracting)
adalah menempatkan kontigensi penguatan dalam tulisan. Jika muncul problem dan anak tidak bertindak sesuai harapan, guru dapat merujuk anak pada perjanjian yang mereka sepakati. Analisis perilaku terapan menyatakan bahwa perjanjian kelas harus berisi masukan dari guru dan murid. Kontrak kelas mengandung pernyataan “jika… maka” dan di tandatangani oleh guru dan murid, dan kemudian diberi tanggal.
e. Menggunakan penguatan negatif secara efektif
Dalam penguatan negatif, frekuensi respons meningkat karena respon tersebut menghilangkan stimulus yang dihindari.seorang guru mengatakan”Pepeng, kamu harus menyelesaikan PR mu dulu diluar kelas sebelum kamu boleh masuk kelas ikut pembelajaran” ini berarti seorang guru menggunakan penguatan negatif.
2. Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukkan (shaping).
Prompt (dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respon tersebut akan terjadi. Shapping (pembentukan) adalah mengajari perilaku baru dengan memperkuat perilaku sasaran.
3. Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan.
Ketika guru ingin mengurangi perilaku yang tidak diharapkan (seperti mengejek, mengganggu diskusi kelas, atau sok pintar) yang harus dilakukan berdasarkan analisis perilaku terapan adalah
a. Menggunakan Penguatan Diferensial.
b. Menghentikan penguatan (pelenyapan)
c. Menghilangkan stimuli yang diinginkan.
d. Memberikan stimuli yang tidak disukai (hukuman)
5. Kelebihan dan kekurangan Menurut B.F. Skinner
a. Kelebihan
Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan.
b. Kekurangan
Beberapa kelemahan dari teori ini berdasarkan analisa teknologi (Margaret E. B. G. 1994) adalah bahwa: (i) teknologi untuk situasi yang kompleks tidak bisa lengkap; analisa yang berhasil bergantung pada keterampilan teknologis, (ii) keseringan respon sukar diterapkan pada tingkah laku kompleks sebagai ukuran peluang kejadian. Disamping itu pula, tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajar-mengajar. Dengan melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi semakin berat.
Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran justru berakibat buruk pada siswa.
BAB III
KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan yang dapat diberikan setelah mengkaji teori belajar B.F Skinner adalah sebagai berikut:
1. Beberapa unsur dasar dalam teori operan kondisioning Skinner dijelaskan pada tabel berikut:
Unsur Dasar Definisi
Asumsi Perubahan tingkah laku ialah fungsi dari kondisi dari lingkungan dan peristiwa
Belajar Perubahan tingkah laku ditunjukkan oleh meningkatnya keseringan respon.
Hasil belajar Respons yang baru (tingkah laku)
Komponen Belajar (SD)-(R)-(R Reinsf)
Perancangan pembelajaran untuk belajar yang kompleks Merancang urutan stimulus - respon - penguatan untuk mengembangkan himpunan respons kompleks.
Isi pokok dalam merancang pembelajaran Pemindahan kendali stimulus, waktu penguatan; menghindarkan hukuman.
1. Teori belajar operan kondisioning Skinner memberi banyak kontribusi untuk praktik pengajaran. Konsekuensi penguatan dan hukuman adalah bagian dari kehidupan dan murid. Jika dipakai secara efektif, pandangan teori ini akan mendapat membantu para guru dalam pengelolaan kelas. Demikian pula prinsip-prinsip dan hukum-hukum belajar yang tertuang dalam teori ini akan membantu guru dalam menggunakan pendekatan pengajaran yang cocok untuk mencapai hasil belajar dan perubahan tingkah laku yang positif bagi anak didik.
2. Kritik terhadap teori pengkondisian operan Skinner adalah seluruh pendekatan itu terlalu banyak menekankan pada control eksternal atas perilaku murid. Teori ini berpandangan bahwa strategi yang lebih baik adalah membantu murid belajar mengontrol perilaku mereka sendiri dan menjadi termotivasi secara internal. Beberapa kritikus mengatakan bahwa bukan ganjaran dan hukuman yang akan mengubah perilaku, namun keyakinan atau ekspektasi bahwa perbuatan tertentu akan diberi ganjaran atau hukuman. atau dengan kata lain teori behaviorisme tidak memberi cukup perhatian pada proses kognitif dalam proses belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Bell Gredler, E. Margaret. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: CV. Rajawali
Moll, L. C. (Ed.). 1994. Vygotsky and Education: Instructional Implications and Application of Sociohistorycal Psychology. Cambridge: Univerity Press
Degeng, I Nyoman Sudana. 1989. Ilmu Pengajaran Taksonomi Variable. Jakarta: Depdikbud
Gagne, E.D., (1985). The Cognitive Psychology of School Learning. Boston, Toronto: Little, Brown and Company
Light, G. and Cox, R. 2001. Learning and TeacTeori Belajar Behavioristik
Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Sixth Edition. Boston: Allyn and Bacon
John W. Satrock, 2007. Psikologi Pendidikan. edisi kedua. PT Kencana Media Group: Jakarta.
Prasetya Irawan, dkk, 1997. Teori belajar. Dirjen Dikti: Jakarta
Arie Asnaldi, 2005. Teori -Teori belajar.
B.F. Skinner and radical behaviorism, Ali, Muh. 1978. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Davies, WCR. 1971. The Management of Learning. London: Mc Graw Hill Book Company.
Ghafur, Abdul. 1980. Disain Instruksional. Suatu Langkah Sistematis
Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Balajar dan Mengajar. Solo: TigaSerangkai.
Hamalik, Oemar. 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan PendekatanSistem. Jakarta: Bumi Aksara.
Mukminan. 1997. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: P3G IKIP.
Pereivel & Ellington. 1984. A Handbook of Educational Technology. London:
Koga Page Ltd.
Suparman, Atwi. 1997. Desain Instruksional. Jakarta: Pusat Antar Universitas.
Wuryani Djiwandono, Sri Esti. 1989. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
http://www.scribd.com/doc/21251076/TEORI-BEHAVIORISME
http://jurusankomunikasi.blogspot.com/2009/03/teori-behaviorisme.htm:01Febr. 2011, 13.00
http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Belajar_Behavioristik” hing ini Higher Education. London: Paul Chapman Publising
http://asnaldi.multiply.com/journal/item/
http://en.wikipedia.org/wiki/Behaviorism#column-one
http://made82math.wordpress.com/
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Banyak teori tentang belajar yang telah berkembang mulai abad ke 19 sampai sekarang ini. Pada awal abad ke-19 teori belajar yang berkembang pesat dan memberi banyak sumbangan terhadap para ahli psikologi adalah teori belajar tingkah laku (behaviorisme) yang awal mulanya dikembangkan oleh psikolog Rusia Ivan Pavlav (tahun 1900-an) dengan teorinya yang dikenal dengan istilah pengkondisian klasik (classical conditioning) dan kemudian teori belajar tingkah laku ini dikembangkan oleh beberapa ahli psikologi yang lain seperti Edward Thorndike, B.F Skinner dan Gestalt.
Teori belajar behaviorisme ini berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau Penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Dalam teori belajar ini guru tidak banyak memberikan ceramah,tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi.
Di awal abad 20 sampai sekarang ini teori belajar behaviorisme mulai ditinggalkan dan banyak ahli psikologi yang baru lebih mengembangkan teori belajar kognitif dengan asumsi dasar bahwa kognisi mempengaruhi prilaku. Penekanan kognitif menjadi basis bagi pendekatan untuk pembelajaran. Walaupun teori belajar tigkah laku mulai ditinggalkan diabad ini, namun mengkolaborasikan teori ini dengan teori belajar kognitif dan teori belajar lainnya sangat penting untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang cocok dan efektif, karena pada dasarnya tidak ada satu pun teori belajar yang betul-betul cocok untuk menciptakan sebuah pendekatan pembelajaran yang pas dan efektif.
A. Tujuan
Penyusunan makalah bertujuan agar penulis mampu memahami :
1. Konsep Teori Behaviorisme dala pembelajaran
2. Tokoh-tokoh teori behaviorisme
3. Sejarah munculnya teori kondisioning operan B.F Skinner.
4. Kajian umum teori B.F Skinner.
5. Aplikasi teori skinner terhadap pembelajaran.
6. Analisis perilaku terapan dalam pendidikan
7. Kelebihan dan kekurangan teori skinner
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Teori Behaviorisme Dalam Pembelajaran
Definisi
Adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan. Pengalaman danpemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.
Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis,menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon,menekankan pentingnya latihan,mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkanperanan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yangdiinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah lakumanusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement darilingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antarareaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan iniberpandapat bahwatingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dantingkahl laku adalah hasil belajar.
Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau memperoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka
Prinsip-prinsip teori behaviorisme adalah :
1. Obyek psikologi adalah tingkah laku
2. Semua bentuk tingkah laku dikembalikan pada reflek
3. Mementingkan pembentukan kebiasaan
Aristoteles berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, seperti sebuah meja lilin yang siap dilukis oleh pengalaman. Menurut John Locke(1632-1704), salah satu tokoh empiris, pada waktu lahir manusia tidak mempunyai “warna mental”. Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman adalah satu-satunya jalan ke pemilikan pengetahuan. Idea dan pengetahuan adalah produk dari pengalaman. Secara psikologis, seluruh perilaku manusia, kepribadian, dan tempramen ditentukan oleh pengalaman inderawi (sensory experience). Pikiran dan perasaan disebabkan oleh perilaku masa lalu.
Kesulitan empirisme dalam menjelaskan gejala psikologi timbul ketika orang membicarakan apa yang mendorong manusia berperilaku tertentu. Hedonisme, memandang manusia sebagai makhluk yang bergerak untuk memenuhi kepentingan dirinya, mencari kesenangan, dan menghindari penderitaan. Dalam utilitarianismem perilaku anusia tunduk pada prinsip ganjaran dan hukuman. Bila empirisme digabung dengan hedonisme dan utilitariansisme, maka itulah yang disebut dengan behaviorisme.
Asumsi bahwa pengalaman adalah paling berpengaruh dala pembentukan perilaku, menyiratkan betapa plastisnya manusia. Ia mudah dibentuk menjadi apa pun dengan menciptakan lingkungan yang relevan
Thorndike dan Watson, kaum behaviorisme berpendirian: organisme dilahirkan tanpa sifat-sifat sosial atau psikologis; perilaku adalah hasil pengalaman dan prilaku digerakan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan. Aliran behavioristik yang lebih bersifat elementaristik memandang manusia sebagai organisme yang pasif, yang dikuasai oleh stimulus-stimulus yang ada di lingkungannya. Pada dasarnya, manusia dapat dimanipulasi, tingkah lakunya dapat dikontrol dengan jalan mengontrol stimulus-stimulus yang ada dalam lingkungannya (Mukminan, 1997: 7). Masalah belajar dalam pandangan behaviorisme, secara umum, memiliki beberapa teori, antara lain: teori Connectionism, Classical Conditioning, Contiguous Conditioning, serta Descriptive Behaviorisme atau yang lebih dikenal dengan nama Operant Conditioning.
Tokoh-tokoh penting yang mengembangkan teori belajar behavioristik,dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Edward Edward Lee Thorndike (1874-(1874-1949)
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori “connectionism”. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, adal eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan. Thorndike menemukan hukum-hukum, yaitu :
a. Hukum kesiapan (Law of Readiness)
Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderung diperkuat.
b. Hukum latihan
Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat.
c. Hukum akibat
Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibanya tidak memuaskan.
1. Ivan Petrovich Pavlo (1849-1936)
Teori pelaziman klasik Adalah memasangkan stimuli yang netral atau stimuli yang terkondisi dengan stimuli tertentu yang tidak terkondisikan, yang melahirkan perilaku tertentu. Setelah pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimuli yang netral melahirkan respons terkondisikan. Pavlo mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank. Dari contoh tersebut diterapkan strategi Pavlo ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar. Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.
1. Albert Bandura (1925-sekarang)
Ternyata tidak semua perilaku dapat dijelaskan dengan pelaziman. Bandura menambahkan konsep belajar sosial (social learning). Ia mempermasalahkan peranan ganjaran dan hukuman dalam proses belajar. Kaum behaviorisme tradisional menjelaskan bahwa kata-kata yang semula tidak ada maknanya, dipasangkan dengan lambak atau obyek yang punya makna (pelaziman klasik).
Teori belajar Bandura adalah teori belajar social atau kognitif social serta efikasi diri yang menunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan emosi orang lain. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi tingkah laku timbale balik yang berkesinambungan antara kognitine perilaku dan pengaruh lingkungan. Factor-faktor yang berproses dalam observasi adalah perhatian, mengingat, produksi motorik, motivasi.
Behaviorsime memang agak sukar menjelaskan motivasi. Motivasi terjadi dalam diri individu, sedang kaum behavioris hanya melihat pada peristiwa-peristiwa eksternal. Perasaan dan pikiran orang tidak menarik mereka. Behaviorisme muncul sebagai reaksi pada psikologi “mentalistik”.
1. Carlk L. Hull
Reinforcement adalah faktor penting dalam belajar yang harus ada. Namun fungsi reinforcement bagi Hull lebih sebagai drive reduction daripada satisfied factor. Dalam mempelajari hubungan S-R yang diperlu dikaji adalah peranan dari intervening variable (atau yang juga dikenal sebagai unsur O (organisma). Faktor O adalah kondisi internal dan sesuatu yang disimpulkan (inferred), efeknya dapat dilihat pada faktor R yang berupa output
1. Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
6. Teori Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Untuk lebih lengkapnya penulis akan membahas teori kondisioning operan pada bagian berikut ini.
B. Teori Kondisioning Operan Menurut B.F.Skiner.
1. Sejarah teori Kondisioning Operan menurut B.F. Skinner
Asas pengkondisian operan B.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an, pada waktu keluarnya teori S-R. Pada waktu keluarnya teori-teori S-R. pada waktu itu model kondisian klasik dari Pavlov telah memberikan pengaruh yang kuat pada pelaksanaan penelitian
Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur. Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya. Bukan begitu, banyak tingkah laku menghasilkan perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme dan dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti.
Asas-asas kondisioning operan adalah kelanjutan dari tradisi yang didirikan oleh John Watson. Artinya, agar psikologi bisa menjadi suatu ilmu, maka studi tingkah laku harus dijadikan fokus penelitian psikologi. Tidak seperti halnya teoritikus-teoritikus S-R lainnya, Skinner menghindari kontradiksi yang ditampilkan oleh model kondisioning klasik dari Pavlov dan kondisioning instrumental dari Thorndike. Ia mengajukan suatu paradigma yang mencakup kedua jenis respon itu dan berlanjut dengan mengupas kondisi-kondisi yang bertanggung jawab atas munculnya respons atau tingkah laku operan.
2. Kajian Teori Kondisioning Operan Menurut B.F.Skiner
Kondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi. Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning operan). Ada 6 asumsi yang membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E. Bell Gredler, hlm 122). Asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:
a. Belajar itu adalah tingkah laku.
b. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.
c. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama.
d. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.
Menurut Skinner (J.W. Santrock, 272) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment).Penguatan dan Hukuman. Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Menurut Skinner penguatan berarti memperkuat, penguatan dibagi menjadi dua bagian yaitu :
a. Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).
b. Penguatan negatif, adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).
Satu cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan penguatan negatif adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Dalam penguatan negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau di hilangkan. Adalah mudah mengacaukan penguatan negatif dengan hukuman. Agar istilah ini tidak rancu, ingat bahwa penguatan negatif meningkatkan probabilitas terjadinya suatu prilaku, sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya perilaku.
Contoh dari konsep penguatan positif, negatif, dan hukuman (J.W Santrock, 274).
A.Penguatan positif
Perilaku
Murid mengajukan pertanyaan yang bagus Konsekuensi
Guru menguji murid Prilaku kedepan
Murid mengajukan lebih banyak pertanyaan
B.Penguatan negatif
Perilaku
Murid menyerahkan PR tepat waktu Konsekuensi
Guru berhenti menegur murid Prilaku kedepan
Murid makin sering menyerahkan PR tepat waktu
C.Hukuman
Perilaku
Murid menyela guru Konsekuensi
Guru mengajar murid langsung Prilaku kedepan
Murid berhenti menyela guru
Ingat bahwa penguatan bisa berbentuk postif dan negatif. Dalam kedua bentuk itu, konsekuensi meningkatkan prilaku. Dalam hukuman, perilakunya berkurang.
Skinner menghasilkan suatu sistem ringkas yang dapat diterapkan pada dinamika perubahan tingkah laku baik di laboratorium maupun di dalam kelas. Belajar, yang digambarkan oleh makin tingginya angka keseringan respons, diberikan sebagai fungsi urutan ketiga unsure (SD)-(R)-(R Reinsf). Skinner menyebutkan praktek khas menempatkan binatang percobaan dalam “kontigensi terminal”. Maksudnya, binatang itu harus berusaha penuh resiko, berhasil atau gagal, dalam mencari jalan lepas dari kurungan atau makanan. Bukannya demikian itu prosedur yang mengena ialah membentuk tingkah-laku binatang itu melalui urutan Sitimulus-respon-penguatan yang diatur secara seksama.
Skinner menggambarkan praktek “tugas dan ujian” sebagai suatu contoh menempatkan pelajar yang manusia itu dalam kontigensi terminal juga. Skinner menyarankan penerapan cara pemberian penguatan komponen tingkah laku seperti menunjukkan perhatian pada stimulus dan melakukan studi yang cocok terhadap tingkah laku. Hukuman harus dihindari karena adanya hasil sampingan yang bersifat emosional dan tidak menjamin timbulnya tingkah laku positif yang diinginkan. Analisa yang dilakukan Skinner tersebut diatas meliputi peran penguat berkondisi dan alami, penguat positif dan negative, dan penguat umum.
Dengan demikian beberapa prinsip belajar yang dikembangkan oleh Skinner antara lain:
a. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.
b. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
c. Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
d. Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
e. Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Namun ini lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.
f. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebagainya. Hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforce
g. Dalam pembelajaran, digunakan shaping.
Disamping itu pula dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
a. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
b. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
3. Aplikasi Skinner terhadap pembelajaran.
Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
b. Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.
c. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi pelajaran digunakan sistem modul.
d. Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
e. Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
f. Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
g. Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
h. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
i. Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)
j. Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
k. Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan pembentukan (shaping).
l. Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
m. Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
n. Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Tugas guru berat, administrasi kompleks.
4. Analisa Perilaku terapan dalam pendidikan
Analisis Perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk mengubah perilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan yaitu
1. Meningkatkan perilaku yang diharapkan
Ada lima strategi pengkondisian operan dapat dipakai untuk meningkatkan perilaku anak yang diharapkan yaitu:
a. Memilih Penguatan yang efektif
Tidak semua penguatan akan sama efeknya bagi anak. Analisis perilaku terapan menganjurkan agar guru mencari tahu penguat apa yang paling baik untuk anak, yakni mengindividualisasikan penggunaan penguat tertentu. Untuk mencari penguatan yang efektif bagi seorang anak, disarankan untuk meneliti apa yang memotivasi anak dimasa lalu, apa yang dilakukan murid tapi tidak mudah diperolehnya, dan persepsi anak terhadap manfaat dan nilai penguatan. Penguatan alamiah seperti pujian lebih dianjurkan ketimbang penguat imbalan materi, seperti permen, mainan dan uang.
b. Menjadikan penguat kontingen dan tepat waktu
Agar penguatan dapat efektif, guru harus memberikan hanya setelah murid melakukan perilaku tertentu. Analisis perilaku terapan seringkali menganjurkan agar guru membuat pernyataan “jika…maka”. penguatan akan lebih efektif jika diberikan tepat pada waktunya, sesegera mungkin setelah murid menjalankan tindakan yang diharapkan. Ini akan membantu anak melihat hubungan kontingensi antar-imbalan dan perilaku mereka. Jika anak menyelesaikan perilaku sasaran (seperti mengerjakan sepuluh soal matematika) tapi guru tidak memberikan waktu bermain pada anak, maka anak itu mungkin akan kesulitan membuat hubungan kontingensi.
c. Memilih jadwal penguatan terbaik
Menyusun jadwal penguatan menentukan kapan suatu respons akan diperkuat. Empat jadwal penguatan utama adalah
1). Jadwal rasio tetap: suatu perilaku diperkuat setelah sejumlah
respon.
2). Jadwal rasio variabel : suatu perilaku diperkuat setelah terjadi
sejumlah respon, akan tetapi tidak berdasarkan basis yang dapat
diperidiksi.
3). Jadwal interval - tetap : respons tepat pertama setelah beberapa
waktu akan diperkuat.
4). Jadwal interval - variabel : suatu respons diperkuat setelah
sejumlah variabel waktu berlalu.
d. Menggunakan Perjanjian. Perjanjian (contracting)
adalah menempatkan kontigensi penguatan dalam tulisan. Jika muncul problem dan anak tidak bertindak sesuai harapan, guru dapat merujuk anak pada perjanjian yang mereka sepakati. Analisis perilaku terapan menyatakan bahwa perjanjian kelas harus berisi masukan dari guru dan murid. Kontrak kelas mengandung pernyataan “jika… maka” dan di tandatangani oleh guru dan murid, dan kemudian diberi tanggal.
e. Menggunakan penguatan negatif secara efektif
Dalam penguatan negatif, frekuensi respons meningkat karena respon tersebut menghilangkan stimulus yang dihindari.seorang guru mengatakan”Pepeng, kamu harus menyelesaikan PR mu dulu diluar kelas sebelum kamu boleh masuk kelas ikut pembelajaran” ini berarti seorang guru menggunakan penguatan negatif.
2. Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukkan (shaping).
Prompt (dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respon tersebut akan terjadi. Shapping (pembentukan) adalah mengajari perilaku baru dengan memperkuat perilaku sasaran.
3. Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan.
Ketika guru ingin mengurangi perilaku yang tidak diharapkan (seperti mengejek, mengganggu diskusi kelas, atau sok pintar) yang harus dilakukan berdasarkan analisis perilaku terapan adalah
a. Menggunakan Penguatan Diferensial.
b. Menghentikan penguatan (pelenyapan)
c. Menghilangkan stimuli yang diinginkan.
d. Memberikan stimuli yang tidak disukai (hukuman)
5. Kelebihan dan kekurangan Menurut B.F. Skinner
a. Kelebihan
Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan.
b. Kekurangan
Beberapa kelemahan dari teori ini berdasarkan analisa teknologi (Margaret E. B. G. 1994) adalah bahwa: (i) teknologi untuk situasi yang kompleks tidak bisa lengkap; analisa yang berhasil bergantung pada keterampilan teknologis, (ii) keseringan respon sukar diterapkan pada tingkah laku kompleks sebagai ukuran peluang kejadian. Disamping itu pula, tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajar-mengajar. Dengan melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi semakin berat.
Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran justru berakibat buruk pada siswa.
BAB III
KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan yang dapat diberikan setelah mengkaji teori belajar B.F Skinner adalah sebagai berikut:
1. Beberapa unsur dasar dalam teori operan kondisioning Skinner dijelaskan pada tabel berikut:
Unsur Dasar Definisi
Asumsi Perubahan tingkah laku ialah fungsi dari kondisi dari lingkungan dan peristiwa
Belajar Perubahan tingkah laku ditunjukkan oleh meningkatnya keseringan respon.
Hasil belajar Respons yang baru (tingkah laku)
Komponen Belajar (SD)-(R)-(R Reinsf)
Perancangan pembelajaran untuk belajar yang kompleks Merancang urutan stimulus - respon - penguatan untuk mengembangkan himpunan respons kompleks.
Isi pokok dalam merancang pembelajaran Pemindahan kendali stimulus, waktu penguatan; menghindarkan hukuman.
1. Teori belajar operan kondisioning Skinner memberi banyak kontribusi untuk praktik pengajaran. Konsekuensi penguatan dan hukuman adalah bagian dari kehidupan dan murid. Jika dipakai secara efektif, pandangan teori ini akan mendapat membantu para guru dalam pengelolaan kelas. Demikian pula prinsip-prinsip dan hukum-hukum belajar yang tertuang dalam teori ini akan membantu guru dalam menggunakan pendekatan pengajaran yang cocok untuk mencapai hasil belajar dan perubahan tingkah laku yang positif bagi anak didik.
2. Kritik terhadap teori pengkondisian operan Skinner adalah seluruh pendekatan itu terlalu banyak menekankan pada control eksternal atas perilaku murid. Teori ini berpandangan bahwa strategi yang lebih baik adalah membantu murid belajar mengontrol perilaku mereka sendiri dan menjadi termotivasi secara internal. Beberapa kritikus mengatakan bahwa bukan ganjaran dan hukuman yang akan mengubah perilaku, namun keyakinan atau ekspektasi bahwa perbuatan tertentu akan diberi ganjaran atau hukuman. atau dengan kata lain teori behaviorisme tidak memberi cukup perhatian pada proses kognitif dalam proses belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Bell Gredler, E. Margaret. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: CV. Rajawali
Moll, L. C. (Ed.). 1994. Vygotsky and Education: Instructional Implications and Application of Sociohistorycal Psychology. Cambridge: Univerity Press
Degeng, I Nyoman Sudana. 1989. Ilmu Pengajaran Taksonomi Variable. Jakarta: Depdikbud
Gagne, E.D., (1985). The Cognitive Psychology of School Learning. Boston, Toronto: Little, Brown and Company
Light, G. and Cox, R. 2001. Learning and TeacTeori Belajar Behavioristik
Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Sixth Edition. Boston: Allyn and Bacon
John W. Satrock, 2007. Psikologi Pendidikan. edisi kedua. PT Kencana Media Group: Jakarta.
Prasetya Irawan, dkk, 1997. Teori belajar. Dirjen Dikti: Jakarta
Arie Asnaldi, 2005. Teori -Teori belajar.
B.F. Skinner and radical behaviorism, Ali, Muh. 1978. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Davies, WCR. 1971. The Management of Learning. London: Mc Graw Hill Book Company.
Ghafur, Abdul. 1980. Disain Instruksional. Suatu Langkah Sistematis
Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Balajar dan Mengajar. Solo: TigaSerangkai.
Hamalik, Oemar. 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan PendekatanSistem. Jakarta: Bumi Aksara.
Mukminan. 1997. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: P3G IKIP.
Pereivel & Ellington. 1984. A Handbook of Educational Technology. London:
Koga Page Ltd.
Suparman, Atwi. 1997. Desain Instruksional. Jakarta: Pusat Antar Universitas.
Wuryani Djiwandono, Sri Esti. 1989. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
http://www.scribd.com/doc/21251076/TEORI-BEHAVIORISME
http://jurusankomunikasi.blogspot.com/2009/03/teori-behaviorisme.htm:01Febr. 2011, 13.00
http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Belajar_Behavioristik” hing ini Higher Education. London: Paul Chapman Publising
http://asnaldi.multiply.com/journal/item/
http://en.wikipedia.org/wiki/Behaviorism#column-one
http://made82math.wordpress.com/
Langganan:
Postingan (Atom)